PENGARUH KECERDASAN
EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH
DASAR
Oleh :
Nama : R. Arryo Prawira Y.
NIM
: 1882050037
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCA SAKTI BEKASI
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadiran
Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat, hidayah serta inayah-Nya saya dapat
menyelesaikan makalah ini yaitu berjudul “Pengaruh
Kecerdasan Emosional terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar”. Semoga
dengan membaca makalah ini, membuat para pembacanya, akan lebih memahami tentang
kecerdasan emosional. Kritik dan saran sangat kami nantikan agar dapat
menyusun sebuah makalah yang lebih baik lagi dan lebih bermanfaat.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan
adalah suatu usaha atau kegiatan
yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan
perilaku yang diinginkan. Sekolah dasar sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka
pencapaian tujuan pendidikan tersebut.
Melalui sekolah dasar, siswa belajar berbagai macam hal.
Dalam
pendidikan formal, belajar menunjukkan adanya perubahan yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari
proses belajar tersebut tercermin
dalam prestasi belajarnya. Namun dalam upaya meraih prestasi
belajar yang memuaskan
dibutuhkan proses belajar.
Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting, karena melalui belajar individu mengenal lingkungannya
dan menyesuaikan
diri dengan lingkungan disekitarnya. Menurut Irwanto (1997 :105) belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi mampu dan
terjadi dalam jangka
waktu tertentu. Dengan belajar,
siswa dapat mewujudkan
cita-cita yang diharapkan.
Prestasi belajar menurut Yaspir Gandhi Wirawan dalam Murjono (1996:178)
adalah: “ Hasil yang dicapai
seorang siswa dalam
usaha belajarnya sebagaimana dicantumkan
di dalam nilai rapornya. Melalui prestasi belajar
seorang siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya
dalam belajar.”
Proses belajar di sekolah dasar adalah proses yang sifatnya
kompleks dan menyeluruh. Banyak orang yang berpendapat
bahwa untuk meraih prestasi yang
tinggi dalam belajar, seseorang harus memiliki Intelligence Quotient (IQ)
yang tinggi, karena inteligensi merupakan bekal
potensial yang akan
memudahkan dalam belajar dan
pada gilirannya akan menghasilkan prestasi belajar yang
optimal. Menurut Binet
dalam buku Winkel (1997:529) hakikat inteligensi adalah kemampuan
untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk
mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan
itu, dan untuk menilai
keadaan diri secara kritis
dan objektif.
Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang
mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan
emosi dan pengungkapannya
(the appropriateness of emotion
and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian
diri, motivasi
diri, empati dan
keterampilan sosial.
Dalam artikel ini akan diuraikan lebih
jauh mengenai teori-teori yang menjelaskan
mengenai pengertian belajar dan prestasi belajar, fator-faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar,
pengertian emosi dan
kecerdasan emosional, indikator kecerdasan emosional,
keterkaitan kecerdasan emosional dengan
prestasi belajar.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pengaruh
kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar siswa?
2.
Seberapa besar
pengaruh kecerdasan emosional prestasi belajar siswa?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar siswa
2.
Untuk mengetahui Seberapa
besar pengaruh kecerdasan emosional prestasi belajar siswa?
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Prestasi
Belajar
1. Pengertian Belajar
Prestasi belajar tidak dapat dipisahkan dari berbuatan belajar, karena belajar merupakan suatu proses, sedangkan
prestasi belajar adalah hasil dari proses pembelajaran
tersebut. Bagi seorang
siswa belajar merupakan suatu
kewajiban. Berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam pendidikan tergantung pada proses belajar
yang dialami oleh siswa tersebut.
Menurtut Logan, dkk (1976) dalam Sia Tjundjing
(2001:70) belajar
dapat diartikan sebagai perubahan
tingkah laku yang
relatif menetap sebagai hasil
pengalaman dan latihan . Senada dengan hal tersebut, Winkel (1997:193) berpendapat bahwa belajar
pada manusia dapat dirumuskan
sebagai suatu aktivitas
mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi
aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan
dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas.
Di dalam belajar, siswa mengalami sendiri proses dari
tidak tahu menjadi tahu, karena itu menurut
Cronbach (Sumadi Suryabrata,1998:231) :
“Belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami
itu pelajar mempergunakan pancainderanya. Pancaindera tidak terbatas hanya indera pengelihatan saja, tetapi juga berlaku bagi indera yang lain.”
Belajar dapat dikatakan berhasil
jika terjadi perubahan dalam diri
siswa, namun tidak semua perubahan perilaku dapat dikatakan belajar
karena perubahan tingkah laku akibat
belajar memiliki ciri-ciri perwujudan yang khas (Muhibbidin Syah, 2000:116) antara lain :
a.
Perubahan Intensional
Perubahan dalam proses berlajar adalah
karena pengalaman atau praktek yang dilakukan secara sengaja dan disadari. Pada
ciri ini siswa menyadari bahwa ada perubahan dalam dirinya, seperti penambahan
pengetahuan, kebiasaan dan keterampilan.
b.
Perubahan Positif
dan aktif
Positif berarti perubahan tersebut baik dan bermanfaat bagi
kehidupan serta sesuai dengan
harapan karena memperoleh
sesuatu yang baru, yang lebih baik dari
sebelumnya. Sedangkan aktif artinya perubahan
tersebut terjadi karena adanya
usaha dari siswa yang bersangkutan.
c.
Perubahan efektif
dan fungsional
Perubahan
dikatakan efektif apabila membawa pengaruh dan manfaat tertentu bagi
siswa. Sedangkan perubahan yang fungsional artinya perubahan dalam diri siswa tersebut relatif menetap dan apabila dibutuhkan perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan lagi.
2.
Pengertian
Prestasi Belajar
Penilaian terhadap hasil belajar siswa
untuk mengetahui sejauhmana ia telah mencapai sasaran belajar inilah
yang disebut sebagai prestasi belajar. Seperti yang
dikatakan oleh Winkel (1997:168) bahwa proses
belajar yang dialami oleh siswa
menghasilkan perubahan-perubahan dalam
bidang pengetahuan dan pemahaman, dalam bidang nilai, sikap dan
keterampilan. Adanya
perubahan tersebut
tampak dalam prestasi belajar yang
dihasilkan oleh siswa terhadap
pertanyaan, persoalan atau tugas yang diberikan oleh guru. Melalui prestasi belajar siswa
dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar.
Sedangkan Marsun dan Martaniah dalam Sia
Tjundjing (2000:71) berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan hasil kegiatan
belajar, yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan
pelajaran yang diajarkan, yang diikuti
oleh munculnya perasaan puas bahwa ia
telah melakukan sesuatu dengan baik. Hal ini berarti prestasi
belajar hanya bisa diketahui jika telah dilakukan penilaian terhadap hasil
belajar siswa.
3.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Prestasi Belajar.
Untuk meraih prestasi belajar yang baik, banyak sekali
faktor yang perlu diperhatikan,
karena di dalam dunia pendidikan tidak sedikit
siswa yang mengalami kegagalan. Kadang ada
siswa yang memiliki dorongan
yang kuat untuk berprestasi dan
kesempatan untuk meningkatkan prestasi,
tapi dalam kenyataannya prestasi yang
dihasilkan di bawah kemampuannya.
Untuk meraih prestasi belajar yang baik
banyak sekali faktor-faktor yang perlu diperhatikan. Menurut Sumadi Suryabrata (1998
: 233) dan Shertzer dan Stone (Winkle, 1997 : 591),
secara garis besar
faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar dan prestasi belajar dapat
digolongkan menjadi dua
bagian, yaitu faktor
internal dan faktor
eksternal.:
a.
Faktor internal
Merupakan faktor yang berasal dari dalam
diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Faktor ini dapat dibedakan
menjadi dua kelompok, yaitu :
1) Faktor fisiologis
Dalam hal ini, faktor fisiologis yang dimaksud adalah faktor yang berhubungan
dengan kesehatan dan pancaindera
a)
Kesehatan badan
Untuk dapat menempuh studi yang
baik siswa perlu memperhatikan dan memelihara kesehatan tubuhnya. Keadaan fisik yang lemah dapat menjadi penghalang bagi siswa dalam
menyelesaikan program studinya. Dalam upaya memelihara kesehatan fisiknya, siswa
perlu memperhatikan pola makan dan pola tidur,
untuk memperlancar metabolisme
dalam tubuhnya. Selain itu, juga untuk memelihara kesehatan
bahkan juga dapat meningkatkan ketangkasan fisik dibutuhkan olahraga yang
teratur.
b)
Pancaindera
Berfungsinya pancaindera merupakan syarat
dapatnya belajar itu berlangsung
dengan baik. Dalam
sistem pendidikan dewasa ini
di antara pancaindera
itu yang paling memegang peranan dalam belajar
adalah mata dan telinga. Hal ini penting,
karena sebagian besar
hal-hal yang dipelajari oleh manusia
dipelajari melalui penglihatan
dan pendengaran. Dengan demikian,
seorang anak yang memiliki
cacat fisik atau bahkan cacat
mental akan menghambat dirinya didalam menangkap pelajaran, sehingga
pada akhirnya akan mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah dasar.
2) Faktor psikologis
Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa,
antara lain adalah :
a)
Intelligensi
Pada umumnya,
prestasi belajar
yang ditampilkan siswa mempunyai
kaitan yang erat dengan tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa. Menurut
Binet
(Winkle,1997 :529) hakikat
inteligensi adalah kemampuan untuk menetapkan dan
mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan suatu
penyesuaian dalam rangka
mencapai tujuan itu
dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif. Taraf inteligensi ini sangat mempengaruhi prestasi belajar seorang siswa, di mana siswa yang memiliki taraf
inteligensi tinggi mempunyai peluang lebih besar untuk mencapai prestasi belajar yang lebih tinggi. Sebaliknya, siswa
yang memiliki taraf
inteligensi yang rendah diperkirakan
juga akan memiliki prestasi
belajar yang rendah.
Namun bukanlah suatu yang tidak mungkin jika siswa dengan taraf inteligensi rendah memiliki prestasi belajar
yang tinggi, juga sebaliknya .
b)
Sikap
Sikap yang pasif, rendah diri dan kurang percaya diri
dapat merupakan faktor yang
menghambat siswa dalam menampilkan prestasi belajarnya. Menurut Sarlito Wirawan (1997:233) sikap adalah kesiapan
seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal
tertentu. Sikap siswa yang
positif terhadap mata
pelajaran di sekolah dasar merupakan langkah awal yang baik dalam proses belajar mengajar
di sekolah dasar.
c)
Motivasi
Menurut Irwanto (1997 : 193)
motivasi adalah penggerak perilaku. Motivasi belajar
adalah pendorong seseorang untuk belajar. Motivasi
timbul karena adanya keinginan atau kebutuhan- kebutuhan dalam diri seseorang. Seseorang berhasil dalam belajar
karena ia ingin belajar.
Sedangkan menurut Winkle
(1991 : 39) motivasi
belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang
menimbulkan kegiatan
belajar, yang menjamin
kelangsungan dari kegiatan belajar
dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar itu;
maka tujuan yang dikehendaki
oleh siswa tercapai. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat
non intelektual. Peranannya yang khas
ialah dalam hal gairah atau semangat
belajar, siswa yang
termotivasi kuat akan
mempunyai banyak energi
untuk melakukan kegiatan belajar.
b.
Faktor eksternal
Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa,
ada hal-hal lain diluar
diri yang dapat mempengaruhi prestasi
belajar yang akan diraih, antara
lain adalah :
1) Faktor lingkungan keluarga
a)
Sosial ekonomi
keluarga
Dengan sosial ekonomi yang memadai, seseorang lebih berkesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik, mulai dari buku,
alat tulis hingga pemilihan sekolah dasar
b)
Pendidikan orang
tua
Orang tua yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan dan memahami pentingnya
pendidikan bagi anak-anaknya, dibandingkan dengan yang mempunyai jenjang pendidikan yang lebih rendah.
c)
Perhatian orang
tua dan suasana hubungan antara
anggota keluarga
Dukungan dari keluarga merupakan suatu pemacu semangat berpretasi bagi seseorang. Dukungan dalam
hal ini bisa secara
langsung, berupa pujian atau nasihat; maupun secara
tidak langsung,
seperti hubugan keluarga yang harmonis.
2) Faktor lingkungan sekolah dasar
a)
Sarana dan prasarana
Kelengkapan fasilitas sekolah dasar, seperti papan tulis, OHP akan membantu kelancaran
proses belajar mengajar
di sekolah dasar;
selain bentuk ruangan,
sirkulasi udara dan lingkungan sekitar
sekolah dasar juga dapat mempengaruhi proses belajar
mengajar
b)
Kompetensi guru
dan siswa
Kualitas guru
dan siswa sangat penting dalam meraih prestasi,
kelengkapan sarana dan prasarana tanpa disertai kinerja yang
baik dari para penggunanya akan sia-sia belaka. Bila seorang
siswa merasa kebutuhannya
untuk berprestasi dengan baik di
sekolah dasar terpenuhi, misalnya dengan tersedianya fasilitas dan tenaga pendidik berkualitas , yang dapat memenuhi rasa ingintahuannya, hubungan dengan guru dan teman-temannya
berlangsung harmonis,
maka siswa akan memperoleh iklim belajar yang menyenangkan.
Dengan demikian, ia akan terdorong untuk terus-menerus
meningkatkan prestasi
belajarnya.
c)
Kurikulum dan metode mengajar
Hal ini meliputi materi dan bagaimana cara memberikan
materi tersebut kepada siswa. Metrode pembelajaran yang lebih interaktif sangat diperlukan untuk menumbuhkan minat dan peran
serta siswa dalam kegiatan
pembelajaran. Sarlito Wirawan (1994:122)
mengatakan bahwa faktor
yang paling penting adalah faktor
guru. Jika guru mengajar dengan arif bijaksana, tegas, memiliki disiplin tinggi, luwes
dan mampu membuat siswa menjadi senang
akan pelajaran, maka prestasi belajar
siswa akan cenderung tinggi, palingtidak siswa tersebut
tidak bosan dalam mengikuti
pelajaran.
3) Faktor lingkungan masyarakat
a)
Sosial budaya
Pandangan
masyarakat tentang pentingnya pendidikan akan mempengaruhi
kesungguhan pendidik dan peserta didik.
Masyarakat yang masih memandang rendah pendidikan
akan enggan mengirimkan anaknya ke
sekolah dasar dan cenderung memandang rendah pekerjaan guru/pengajar
b)
Partisipasi terhadap
pendidikan
Bila semua
pihak telah berpartisipasi
dan mendukung kegiatan
pendidikan, mulai dari pemerintah (berupa kebijakan dan anggaran) sampai pada
masyarakat bawah, setiap orang akan lebih
menghargai dan berusaha memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
4.
Pengukuran
prestasi belajar
Dalam dunia pendidikan,
menilai merupakan salah satu kegiatan yang tidak dapat ditinggalkan. Menilai merupakan
salah
satu proses
belajar dan mengajar yang dibuat dalam bentuk rapor. Dalam rapor dapat diketahui sejauh mana
prestasi belajar seorang
siswa, apakah
siswa
tersebut berhasil
atau gagal dalam suatu mata pelajaran.
Didukung oleh pendapat
Sumadi Suryabrata (1998 : 296) bahwa rapor merupakan perumusan terakhir yang
diberikan oleh guru mengenai kemajuan atau hasil belajar murid-muridnya selama masa tertentu.
Syaifuddin Azwar (1998 :11) menyebutkan
bahwa ada
beberapa fungsi penilaian dalam pendidikan, yaitu :
a.
Penilaian berfungsi
selektif (fungsi sumatif)
Fungsi penilaian ini merupakan pengukuran
akhir dalam suatu
program dan hasilnya dipakai untuk menentukan
apakah siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak dalam program
pendidikan tersebut. Dengan kata lain
penilaian berfungsi untuk membantu guru mengadakan
seleksi terhadap beberapa siswa, misalnya :
1) Memilih
siswa yang akan diterima di sekolah dasar
2) Memilih
siswa untuk dapat naik kelas
3) Memilih
siswa yang seharusnya dapat beasiswa
b.
Penilaian berfungsi
diagnostik
Fungsi penilaian
ini selain untuk mengetahui
hasil yang dicapai siswa juga
mengetahui kelemahan
siswa sehingga dengan
adanya penilaian, maka guru dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan masing-masing
siswa. Jika guru dapat
mendeteksi kelemahan siswa,
maka kelemahan tersebut dapat
segera diperbaiki.
c.
Penilaian berfungsi
sebagai penempatan (placement)
Setiap siswa
memiliki kemampuan berbeda satu sama lain.
Penilaian dilakukan untuk
mengetahui di mana seharusnya
siswa tersebut ditempatkan sesuai dengan kemampuannya
yang telah diperlihatkannya
pada prestasi belajar yang
telah dicapainya.
d.
Penilaian berfungsi
sebagai pengukur keberhasilan
(fungsi formatif)
Penilaian berfungsi untuk mengetahui sejauh mana suatu program dapat diterapkan. Sebagai contoh adalah raport di setiap semester di sekolah-sekolah tingkat dasar dapat dipakai untuk mengetahui apakah program pendidikan yang telah
diterapkan berhasil diterapkan
atau tidak pada siswa tersebut.
B.
Kecerdasan Emosional
1.
Pengertian emosi
Kata emosi
berasal dari bahasa latin,
yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut
Daniel Goleman (2002 :
411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas,
suatu
keadaan biologis dan psikologis dan
serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap
rangsangan dari
luar
dan dalam diri individu.
Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi,
antara lain Descrates. Menurut Descrates,
emosi terbagi atas : Desire (hasrat),
hate
(benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran),
Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu
: fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta). Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan
kedua tokoh di atas, yaitu :
a.
Amarah : beringas,
mengamuk, benci, jengkel,
kesal hati
b.
Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi
diri, putus asa
c.
Rasa takut : cemas,
gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada,
tidak tenang, ngeri
d.
Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
e.
Cinta : penerimaan,
persahabatan, kepercayaan,
kebaikan hati, rasa
dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih
f.
Terkejut : terkesiap, terkejut
g.
Jengkel : hina, jijik, muak,
mual, tidak suka
h.
malu : malu hati, kesal
Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung
menganut gaya-gaya
khas
dalam menangani dan
mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan,
dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan
emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan
tidak menjadikan
hidup yang di jalani menjadi
sia-sia.
2.
Pengertian
Kecerdasan Emosional
Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan
pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari
Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan
kualitas-kualitas emosional yang tampaknya
penting bagi keberhasilan.
Salovey dan Mayer mendefinisikan
kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai :
“himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan
kemampuan memantau perasaan sosial yang
melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran
dan tindakan.” (Shapiro, 1998:8).
Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak
bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan
lingkungan terutama orang tua pada
masa
kanak-kanak sangat mempengaruhi
dalam pembentukan kecerdasan emosional.
Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari :”kecerdasan antar pribadi yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa
yang memotivasi mereka, bagaimana mereka
bekerja, bagaimana bekerja
bahu membahu dengan kecerdasan.
Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang
korelatif, tetapi terarah ke
dalam
diri. Kemampuan tersebut
adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk
menggunakan modal tadi sebagai
alat untuk menempuh kehidupan
secara efektif.” (Goleman, 2002 :
52).
Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi
(to manage our emotional life with
intelligence); menjaga keselarasan emosi
dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its
expression) melalui keterampilan
kesadaran diri, pengendalian
diri, motivasi diri,
empati dan keterampilan sosial.
3.
Faktor
Kecerdasan Emosional
Goleman mengutip Salovey (2002:58-59) menempatkan menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya dan
memperluas kemapuan
tersebut menjadi lima
kemampuan utama, yaitu :
a.
Mengenali Emosi
Diri
Mengenali emosi diri sendiri merupakan
suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan
ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi
menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer (Goleman, 2002
: 64) kesadaran diri adalah waspada
terhadap suasana hati
maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang
waspada maka individu
menjadi mudah larut dalam
aliran emosi dan dikuasai
oleh emosi.
b.
Mengelola Emosi
Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat
atau selaras, sehingga
tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang
merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju
kesejahteraan emosi. Emosi
berlebihan, yang meningkat dengan intensitas
terlampau lama akan mengoyak
kestabilan kita (Goleman, 2002 : 77-78). Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk
menghibur diri sendiri,
melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan
dan akibat- akibat
yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk
bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.
c.
Memotivasi Diri
Sendiri
Presatasi harus dilalui dengan
dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai
perasaan motivasi yang positif,
yaitu antusianisme,
gairah, optimis dan
keyakinan diri.
d.
Mengenali Emosi Orang
Lain
Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain
disebut juga empati. Menurut Goleman (2002
:57) kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli,
menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan
orang lain sehingga
ia lebih mampu menerima
sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain
dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.
e.
Membina Hubungan
Kemampuan
dalam membina hubungan merupakan suatu
keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi
(Goleman, 2002 : 59). Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar
dalam keberhasilan
membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan apa
yang diinginkannya dan sulit juga memahami
keinginan serta kemauan orang lain.
Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan sukses
dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan
karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada
orang lain. Orang-
orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan
karena kemampuannya berkomunikasi (Goleman, 2002
:59). Ramah tamah, baik hati,
hormat dan disukai orang lain dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa
mampu
membina hubungan
dengan orang lain. Sejauhmana kepribadian siswa berkembang dilihat
dari banyaknya hubungan interpersonal
yang dilakukannya.
C. Keterkaitan antara kecerdasan
emosional dengan prestasi belajar pada
siswa
Di tengah semakin ketatnya persaingan di dunia pendidikan
dewasa ini, merupakan
hal yang wajar apabila
para siswa sering khawatir
akan mengalami kegagalan atau ketidak berhasilan dalam meraih prestasi belajar atau bahkan takut
tinggal kelas.
Banyak
usaha yang dilakukan oleh para siswa untuk meraih prestasi belajar
agar menjadi yang terbaik
seperti mengikuti bimbingan belajar. Usaha semacam itu
jelas positif, namun masih ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya
dalam mencapai keberhasilan selain kecerdasan
ataupun kecakapan intelektual, faktor tersebut adalah kecerdasan
emosional. Karena kecerdasan
intelektual saja tidak memberikan
persiapan bagi individu
untuk menghadapi gejolak, kesempatan
ataupun kesulitan-kesulitan dan kehidupan. Dengan kecerdasan emosional, individu mampu
mengetahui dan menanggapi perasaan mereka
sendiri dengan baik dan mampu membaca dan menghadapi perasaan- perasaan orang lain dengan efektif. Individu dengan keterampilan
emosional yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan berhasil dalam kehidupan
dan memiliki motivasi untuk berprestasi. Sedangkan individu yang tidak dapat
menahan kendali atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merusak kemampuannya untuk memusatkan perhatian
pada tugas-tugasnya dan memiliki pikiran
yang jernih.
Individu yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih
baik, dapat menjadi lebih terampil
dalam menenangkan dirinya dengan cepat,
jarang tertular penyakit, lebih terampil dalam
memusatkan perhatian, lebih baik
dalam berhubungan dengan orang
lain, lebih cakap dalam memahami orang lain dan
untuk kerja akademis di sekolah dasar lebih baik (Gottman, 2001:xvii).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Prestasi belajar biasanya
ditunjukkan dalam bentuk
huruf atau angka, yang tinggi rendahnya menunjukkan seberapa jauh siswa telah
menguasai bahan yang telah diberikan, tetapi hal tersebut sudah tidak dapat diterima lagi karena
hasil rapor tidak hanya
menunjukkan seberapa jauh siswa
telah menguasai materi pelajaran yang telah diberikan. Presatasi belajar juga dipengaruhi oleh perilaku siswa,
kerajinan dan keterampilan atau sikap
tertentu yang dimiliki siswa tersebut, yang dapat diukur dengan standar
nilai tertentu oleh guru yang bersangkutan
agar mendekati nilai rata-rata
Kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor
yang penting yang seharusnya dimiliki oleh siswa yang memiliki kebutuhan untuk meraih prestasi belajar
yang lebih baik di sekolah dasar
sedangkan prestasi belajar
merupakan hasil usaha belajar yang dicapai seorang siswa berupa suatu kecakapan
dari kegiatan
belajar bidang akademik di sekolah dasar pada jangka waktu tertentu
yang dicatat pada setiap akhir
semester di dalam buki
laporan yang disebut rapor.
B.
Saran
Demikian makalah yang dapat saya susun. Semoga dapat bermanfaat bagi
kita semua, kami menyadari bahwa makalah ini bukanlah proses akhir, tetapi
merupakan langkah awal yang masih banyak memerlukan perbaikan. Oleh karena itu saya
sangat mengharapkan tanggapan, saran dan kritik yang membangun demi sempurnanya
makalah kami yang selanjutnya. Dan semoga kita bisa bersama-sama mempelajari
materi ini dan selanjutnya.
Daftar link jurnal
ilmiah:
1.
http://etheses.uin-malang.ac.id/2771/1/10410137.pdf
2.
https://lib.unnes.ac.id/21431/1/1401411554-s.pdf
3.
https://core.ac.uk/download/pdf/148610509.pdf
4.
https://core.ac.uk/download/pdf/289784374.pdf
5.
http://www.repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/39811/1/Phony%20Dhiana%20Sinwih-FITK
