Thursday, January 14, 2021

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR

 




PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR





 

Oleh :

Nama  :           R. Arryo Prawira Y.

NIM    :           1882050037






 

 FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PANCA SAKTI BEKASI

2021






KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat, hidayah serta inayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini yaitu berjudul “Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar”. Semoga dengan membaca makalah ini, membuat para pembacanya, akan lebih memahami tentang kecerdasan emosional. Kritik dan saran sangat kami nantikan agar dapat menyusun sebuah makalah yang lebih baik lagi dan lebih bermanfaat.



BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.    Latar Belakang

Pendidikan adalah suatu usaha  atau  kegiatan  yang  dijalankan  dengan  sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah dasar  sebagai  lembaga formal merupakan sarana dalam  rangka  pencapaian  tujuan  pendidikan  tersebut.  Melalui  sekolah dasarsiswa belajar berbagai macam hal.

Dalam pendidikan formal, belajar menunjukkan adanya perubahan  yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam prestasi belajarnya. Namun dalam upaya meraih  prestasi belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar.

Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting,  karena  melalui   belajar   individu   mengenal   lingkungannya  dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. Menurut Irwanto (1997 :105) belajar merupakan proses perubahan dari  belum  mampu  menjadi  mampu  dan  terjadi dalam jangka waktu tertentu. Dengan belajar, siswa dapat  mewujudkan cita-cita yang diharapkan.

Prestasi belajar menurut Yaspir Gandhi Wirawan dalam Murjono (1996:178) adalah: Hasil yang dicapai seorang siswa dalam usaha belajarnya sebagaimana dicantumkan  di  dalam  nilai  rapornya.  Melalui  prestasi   belajar  seorang siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar.”

Proses belajar di sekolah dasar adalah proses yang sifatnya kompleks dan menyeluruh. Banyak orang yang  berpendapat  bahwa  untuk  meraih  prestasi  yang tinggi dalam belajar, seseorang  harus  memiliki  Intelligence  Quotient  (IQ)  yang tinggi,  karena  inteligensi merupakan  bekal  potensial  yang   akan   memudahkan dalam belajar  dan  pada  gilirannya  akan  menghasilkan  prestasi   belajar  yang optimal. Menurut Binet dalam buku Winkel (1997:529) hakikat inteligensi adalah kemampuan untuk menetapkan  dan  mempertahankan  suatu  tujuan,  untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan  untuk  menilai keadaan diri secara kritis dan objektif.

Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage  our emotional life  with  intelligence);  menjaga  keselarasan  emosi  dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri,  pengendalian  diri,  motivasi  diri,  empati  dan keterampilan sosial.

Dalam artikel ini akan diuraikan lebih jauh mengenai teori-teori yang menjelaskan mengenai pengertian belajar dan prestasi belajar, fator-faktor  yang mempengaruhi prestasi belajar, pengertian  emosi  dan  kecerdasan  emosional, indikator  kecerdasan  emosional,  keterkaitan   kecerdasan   emosional   dengan prestasi belajar.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar siswa?

2.      Seberapa besar pengaruh kecerdasan emosional prestasi belajar siswa?

 

C.    Tujuan Penulisan

1.   Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar siswa

2.   Untuk mengetahui Seberapa besar pengaruh kecerdasan emosional prestasi belajar siswa?


 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

A.    Prestasi Belajar

 

1.     Pengertian Belajar

 

Prestasi belajar tidak dapat dipisahkan dari berbuatan belajar, karena belajar merupakan suatu proses, sedangkan prestasi belajar adalah hasil dari proses pembelajaran tersebut. Bagi seorang siswa belajar merupakan suatu kewajiban.  Berhasil  atau  tidaknya  seorang  siswa  dalam   pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa tersebut.

Menurtut Logan, dkk (1976) dalam Sia Tjundjing (2001:70)  belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif  menetap  sebagai hasil pengalaman dan latihan Senada dengan  hal  tersebut,  Winkel  (1997:193) berpendapat bahwa belajar pada  manusia  dapat  dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental atau  psikis  yang  berlangsung  dalam  interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat  relatif  konstan  dan berbekas.

Di dalam belajar, siswa mengalami sendiri proses dari  tidak  tahu menjadi tahu, karena itu menurut Cronbach (Sumadi Suryabrata,1998:231) :

“Belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami      itu pelajar mempergunakan pancainderanya. Pancaindera tidak terbatas  hanya  indera  pengelihatan   saja,   tetapi juga berlaku bagi indera yang lain.”

Belajar dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan dalam diri siswa, namun tidak semua perubahan perilaku dapat dikatakan  belajar karena perubahan tingkah laku  akibat  belajar  memiliki  ciri-ciri  perwujudan yang khas (Muhibbidin Syah, 2000:116) antara lain :

a.                Perubahan Intensional

 

Perubahan dalam proses berlajar adalah karena pengalaman atau praktek yang dilakukan secara sengaja dan disadari. Pada ciri ini siswa menyadari bahwa ada perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan dan keterampilan.

b.               Perubahan Positif dan aktif

 

Positif berarti perubahan tersebut  baik  dan  bermanfaat  bagi kehidupan serta sesuai dengan harapan karena memperoleh sesuatu yang baru,  yang  lebih  baik  dari  sebelumnya.  Sedangkan  aktif   artinya  perubahan tersebut terjadi karena adanya usaha dari siswa  yang bersangkutan.

c.                Perubahan efektif dan fungsional

 

Perubahan dikatakan efektif apabila membawa pengaruh dan manfaat  tertentu  bagi  siswa.  Sedangkan  perubahan  yang   fungsional  artinya perubahan dalam diri siswa tersebut relatif menetap dan apabila dibutuhkan perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan lagi.

 

2.           Pengertian Prestasi Belajar

Penilaian  terhadap  hasil  belajar  siswa  untuk   mengetahui  sejauhmana ia  telah mencapai  sasaran  belajar  inilah  yang  disebut  sebagai  prestasi belajar. Seperti yang  dikatakan   oleh  Winkel  (1997:168)  bahwa  proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan  dalam bidang pengetahuan dan pemahaman, dalam bidang  nilai,  sikap  dan keterampilan.  Adanya  perubahan  tersebut  tampak  dalam  prestasi   belajar yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan, persoalan atau tugas yang diberikan oleh guru. Melalui prestasi  belajar siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar.

Sedangkan Marsun dan Martaniah dalam Sia Tjundjing (2000:71) berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar, yaitu  sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang diajarkan,  yang diikuti oleh munculnya perasaan puas  bahwa  ia  telah  melakukan  sesuatu dengan baik. Hal ini berarti prestasi belajar hanya bisa diketahui jika telah dilakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa.

 

3.           Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar.

Untuk meraih prestasi belajar yang baik, banyak  sekali  faktor  yang perlu  diperhatikan,  karena  di  dalam  dunia  pendidikan  tidak  sedikit  siswa yang  mengalami kegagalan.  Kadang  ada  siswa   yang   memiliki   dorongan yang kuat untuk  berprestasi  dan  kesempatan  untuk  meningkatkan  prestasi, tapi dalam kenyataannya prestasi yang dihasilkan di bawah kemampuannya.

Untuk meraih prestasi belajar yang baik  banyak  sekali  faktor-faktor yang perlu diperhatikan. Menurut Sumadi Suryabrata (1998  :  233)  dan Shertzer dan Stone (Winkle, 1997  : 591),  secara garis  besar faktor-faktor  yang mempengaruhi belajar dan prestasi belajar  dapat  digolongkan  menjadi  dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.:

a.                        Faktor internal

 

Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :

1)   Faktor fisiologis

 

Dalam hal ini, faktor fisiologis  yang  dimaksud  adalah  faktor  yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera

a)              Kesehatan badan

 

Untuk dapat menempuh studi yang baik siswa perlu memperhatikan dan memelihara kesehatan tubuhnya. Keadaan fisik yang lemah dapat menjadi penghalang bagi siswa  dalam menyelesaikan  program  studinya.  Dalam upaya  memelihara kesehatan fisiknya, siswa perlu memperhatikan pola makan dan pola  tidur,  untuk  memperlancar  metabolisme  dalam   tubuhnya.   Selain itu, juga untuk memelihara kesehatan bahkan juga dapat meningkatkan ketangkasan fisik dibutuhkan olahraga yang teratur.

 

b)                    Pancaindera

 

Berfungsinya   pancaindera merupakan  syarat   dapatnya belajar itu berlangsung  dengan  baik.  Dalam  sistem pendidikan dewasa  ini  di  antara  pancaindera  itu  yang  paling   memegang peranan dalam belajar adalah mata dan  telinga.  Hal  ini  penting, karena  sebagian  besar  hal-hal  yang  dipelajari oleh  manusia dipelajari melalui penglihatan dan pendengaran. Dengan demikian, seorang anak yang memiliki cacat fisik  atau  bahkan  cacat  mental akan menghambat dirinya didalam menangkap  pelajaran,  sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah dasar.

2)      Faktor psikologis

 

Ada    banyak     faktor     psikologis     yang                           dapat      mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain adalah :

a)              Intelligensi

 

Pada umumnya, prestasi belajar yang ditampilkan siswa mempunyai kaitan  yang  erat  dengan  tingkat  kecerdasan  yang  dimiliki  siswa. Menurut  Binet  (Winkle,1997   :529)   hakikat inteligensi adalah kemampuan  untuk  menetapkan  dan mempertahankan   suatu  tujuan,  untuk   mengadakan   suatu penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif. Taraf inteligensi ini sangat mempengaruhi prestasi belajar seorang siswa, di mana siswa yang memiliki  taraf  inteligensi tinggi  mempunyai  peluang  lebih   besar untuk  mencapai  prestasi   belajar  yang   lebih   tinggi.   Sebaliknya, siswa  yang  memiliki   taraf  inteligensi   yang   rendah   diperkirakan juga akan memiliki prestasi belajar yang rendah. Namun bukanlah suatu          yang   tidak         mungkin    jika  siswa     dengan taraf  inteligensi rendah memiliki prestasi belajar yang tinggi, juga sebaliknya .

b)                    Sikap

 

Sikap yang pasif, rendah diri dan kurang percaya diri dapat merupakan faktor yang menghambat siswa  dalam  menampilkan prestasi belajarnya. Menurut Sarlito Wirawan (1997:233) sikap adalah kesiapan seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu. Sikap siswa yang positif terhadap mata pelajaran di sekolah dasar merupakan langkah awal yang baik dalam proses belajar mengajar di sekolah dasar.

c)              Motivasi

 

Menurut Irwanto (1997 : 193) motivasi adalah penggerak perilaku.  Motivasi  belajar  adalah  pendorong  seseorang untuk belajar. Motivasi timbul karena adanya keinginan atau kebutuhan- kebutuhan dalam diri seseorang. Seseorang berhasil dalam belajar karena ia ingin belajar. Sedangkan menurut Winkle (1991  :  39) motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam  diri  siswa yang menimbulkan kegiatan belajar,  yang  menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar itu; maka tujuan  yang  dikehendaki  oleh  siswa tercapai.  Motivasi belajar  merupakan  faktor  psikis  yang   bersifat non intelektual. Peranannya yang khas ialah dalam hal gairah atau semangat belajar, siswa yang termotivasi  kuat  akan  mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar.

 

b.                       Faktor eksternal

 

Selain faktor-faktor  yang ada dalam diri siswa,  ada  hal-hal  lain diluar diri yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang akan diraih, antara lain adalah :

1)   Faktor lingkungan keluarga

a)                      Sosial ekonomi keluarga

 

Dengan sosial ekonomi yang memadai, seseorang  lebih berkesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik, mulai dari buku, alat tulis hingga pemilihan sekolah dasar

b)            Pendidikan orang tua

 

Orang tua yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan dan memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, dibandingkan dengan yang mempunyai jenjang pendidikan yang lebih rendah.

c)              Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga

 

Dukungan dari keluarga merupakan suatu pemacu semangat berpretasi bagi seseorang. Dukungan dalam hal ini  bisa  secara langsung, berupa pujian atau nasihat; maupun secara  tidak langsung, seperti hubugan keluarga yang harmonis.

2)   Faktor lingkungan sekolah dasar

 

a)              Sarana dan prasarana

 

Kelengkapan  fasilitas  sekolah dasarseperti  papan  tulis,   OHP akan membantu kelancaran proses belajar mengajar di sekolah dasar; selain  bentuk ruangan,  sirkulasi  udara  dan  lingkungan   sekitar sekolah dasar juga dapat mempengaruhi proses belajar mengajar

b)            Kompetensi guru dan siswa

 

Kualitas guru  dan  siswa  sangat  penting  dalam  meraih prestasi, kelengkapan sarana dan  prasarana  tanpa  disertai  kinerja yang baik dari para penggunanya akan sia-sia belaka. Bila seorang siswa merasa  kebutuhannya  untuk  berprestasi  dengan  baik  di sekolah dasar terpenuhi, misalnya dengan tersedianya fasilitas dan tenaga pendidik berkualitas , yang dapat memenuhi rasa ingintahuannya, hubungan dengan guru dan teman-temannya berlangsung harmonis,

maka siswa akan memperoleh iklim belajar yang menyenangkan. Dengan demikian, ia akan terdorong untuk  terus-menerus meningkatkan prestasi belajarnya.

c)                      Kurikulum dan metode mengajar

 

Hal ini meliputi materi dan bagaimana cara memberikan materi tersebut kepada siswa. Metrode pembelajaran yang lebih interaktif sangat diperlukan untuk menumbuhkan minat dan peran serta siswa  dalam  kegiatan  pembelajaran. Sarlito  Wirawan (1994:122) mengatakan bahwa faktor yang paling  penting  adalah faktor  guru.  Jika guru  mengajar  dengan  arif  bijaksana,  tegas, memiliki disiplin tinggi, luwes dan mampu membuat siswa menjadi senang akan pelajaran, maka prestasi belajar siswa akan cenderung tinggi, palingtidak siswa tersebut tidak bosan  dalam  mengikuti pelajaran.

3)   Faktor lingkungan masyarakat

 

a)              Sosial budaya

 

Pandangan masyarakat tentang pentingnya pendidikan akan mempengaruhi  kesungguhan  pendidik   dan  peserta   didik. Masyarakat yang masih memandang rendah pendidikan  akan enggan  mengirimkan anaknya  ke  sekolah dasar  dan  cenderung memandang rendah pekerjaan guru/pengajar

b)            Partisipasi terhadap pendidikan

 

Bila semua  pihak  telah  berpartisipasi  dan  mendukung kegiatan pendidikan, mulai dari pemerintah (berupa kebijakan dan anggaran) sampai pada masyarakat bawah, setiap orang akan lebih menghargai dan berusaha memajukan pendidikan dan ilmu  pengetahuan.

4.           Pengukuran prestasi belajar

Dalam dunia  pendidikan,  menilai  merupakan  salah   satu   kegiatan  yang tidak dapat ditinggalkan. Menilai merupakan salah  satu  proses  belajar dan mengajar yang dibuat dalam bentuk rapor. Dalam rapor dapat diketahui sejauh mana prestasi belajar seorang  siswa, apakah  siswa  tersebut  berhasil atau gagal dalam suatu mata pelajaran. Didukung oleh pendapat Sumadi Suryabrata (1998 : 296) bahwa rapor merupakan perumusan terakhir yang diberikan oleh guru mengenai kemajuan atau hasil  belajar  murid-muridnya selama masa tertentu.

Syaifuddin Azwar (1998 :11)  menyebutkan  bahwa  ada  beberapa fungsi penilaian dalam pendidikan, yaitu :

a.                Penilaian berfungsi selektif (fungsi sumatif)

 

Fungsi penilaian ini merupakan pengukuran akhir  dalam  suatu program dan hasilnya dipakai  untuk menentukan apakah siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak dalam program pendidikan tersebut. Dengan kata lain penilaian berfungsi untuk membantu guru mengadakan seleksi terhadap beberapa siswa, misalnya :

1)  Memilih siswa yang akan diterima di sekolah dasar

 

2)  Memilih siswa untuk dapat naik kelas

 

3)  Memilih siswa yang seharusnya dapat beasiswa

 

b.               Penilaian berfungsi diagnostik

 

Fungsi penilaian  ini  selain  untuk  mengetahui  hasil  yang  dicapai siswa  juga  mengetahui  kelemahan  siswa  sehingga   dengan   adanya penilaian, maka guru dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan masing-masing  siswa. Jika guru  dapat   mendeteksi   kelemahan   siswa, maka kelemahan tersebut dapat segera diperbaiki.

c.                Penilaian berfungsi sebagai penempatan (placement)

Setiap siswa  memiliki  kemampuan  berbeda  satu  sama  lain. Penilaian dilakukan untuk mengetahui di mana seharusnya siswa tersebut ditempatkan sesuai  dengan  kemampuannya  yang  telah  diperlihatkannya pada prestasi belajar yang telah dicapainya.

d.                       Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan (fungsi formatif)

 

Penilaian berfungsi untuk mengetahui sejauh mana suatu  program dapat diterapkan. Sebagai contoh adalah raport di setiap semester di sekolah-sekolah tingkat dasar  dapat  dipakai untuk mengetahui apakah program pendidikan yang telah diterapkan berhasil diterapkan atau tidak pada siswa tersebut.

B.    Kecerdasan Emosional

 

1.        Pengertian emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak  menjauh.  Arti  kata  ini  menyiratkan  bahwa   kecenderungan   bertindak merupakan  hal  mutlak  dalam  emosi.  Menurut  Daniel  Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada  suatu  perasaan  dan  pikiran  yang  khas, suatu  keadaan  biologis  dan  psikologis  dan   serangkaian   kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk  bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan  dari  luar  dan  dalam diri individu.

Beberapa  tokoh  mengemukakan  tentang   macam-macam   emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates,  emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate  (benci), Sorrow  (sedih/duka), Wonder  (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan),  Rage(kemarahan),  Love  (cinta).   Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :

a.          Amarah                           : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati

 

b.                   Kesedihan                    pedih, sedih,  muram,  suram,  melankolis,  mengasihi diri, putus asa

c.                  Rasa takut                    : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri

d.                   Kenikmatan                 :    bahagia,     gembira,     riang,                                      puas,                 riang,           senang, terhibur, bangga

e.                  Cinta                             : penerimaan,  persahabatan,  kepercayaan,  kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih

f.                  Terkejut                           : terkesiap, terkejut

 

g.                   Jengkel                            : hina, jijik, muak, mual, tidak suka

 

h.                   malu                                : malu hati, kesal

 

Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas  dalam  menangani  dan  mengatasi  emosi  mereka,  yaitu  : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan,  dan  pasrah.  Dengan  melihat keadaan  itu  maka  penting  bagi  setiap  individu  memiliki   kecerdasan emosional  agar  menjadikan  hidup  lebih  bermakna  dan  tidak  menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.

 

 

2.           Pengertian Kecerdasan Emosional

Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada  tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University  dan  John  Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan.

Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai :

“himpunan  bagian  dari  kecerdasan sosial  yang  melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan  tindakan.”  (Shapiro, 1998:8).

 

Kecerdasan emosional sangat  dipengaruhi  oleh  lingkungan,  tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan  terutama  orang  tua  pada  masa  kanak-kanak  sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional.

Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari :”kecerdasan antar pribadi  yaitu  kemampuan  untuk  memahami   orang   lain,   apa   yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan.  Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif,  tetapi  terarah   ke  dalam  diri.  Kemampuan  tersebut adalah kemampuan membentuk  suatu  model  diri  sendiri  yang  teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal  tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif.” (Goleman, 2002 : 52).

Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan  seseorang  mengatur  kehidupan   emosinya   dengan   inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga  keselarasan  emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expressionmelalui  keterampilan  kesadaran  diri,   pengendalian   diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.

3.           Faktor Kecerdasan Emosional

Goleman mengutip Salovey (2002:58-59)  menempatkan menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional  yang  dicetuskannya  dan  memperluas  kemapuan tersebut menjadi lima kemampuan utama, yaitu :

a.                Mengenali Emosi Diri

Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan  itu  terjadi.  Kemampuan  ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli  psikologi menyebutkan kesadaran diri  sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 64) kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati  maupun  pikiran  tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi.

b.                       Mengelola Emosi

 

Mengelola  emosi  merupakan  kemampuan  individu   dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan  tepat  atau  selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga  agar  emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi.  Emosi  berlebihan,  yang  meningkat  dengan   intensitas   terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita (Goleman, 2002 : 77-78). Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau  ketersinggungan  dan  akibat- akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.

c.                Memotivasi Diri Sendiri

 

Presatasi harus dilalui  dengan  dimilikinya  motivasi  dalam  diri individu, yang berarti  memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi  yang  positif,  yaitu  antusianisme,  gairah,  optimis   dan  keyakinan diri.

d.               Mengenali Emosi Orang Lain

 

Kemampuan untuk  mengenali  emosi  orang  lain  disebut   juga empati. Menurut Goleman (2002 :57) kemampuan seseorang   untuk  mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati  lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang  mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan  lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.

e.                        Membina Hubungan

 

Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan   yang menunjang  popularitas,   kepemimpinan   dan keberhasilan antar pribadi (Goleman, 2002 : 59). Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan  kemampuan  dasar   dalam   keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan  apa  yang diinginkannya dan  sulit  juga  memahami  keinginan  serta   kemauan  orang lain.

Orang-orang  yang  hebat  dalam  keterampilan  membina  hubungan ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil  dalam  pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan  lancar  pada  orang  lain.  Orang- orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman  yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi (Goleman, 2002

:59). Ramah tamah, baik hati,  hormat  dan  disukai  orang  lain  dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa mampu  membina  hubungan dengan  orang  lain.  Sejauhmana  kepribadian  siswa   berkembang   dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukannya.

 

C.    Keterkaitan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa

Di tengah semakin ketatnya persaingan di dunia pendidikan dewasa ini, merupakan hal yang wajar apabila para siswa sering khawatir akan mengalami kegagalan atau ketidak berhasilan dalam  meraih  prestasi  belajar  atau  bahkan takut tinggal kelas.

Banyak usaha yang dilakukan oleh  para  siswa  untuk  meraih  prestasi belajar agar menjadi yang terbaik seperti mengikuti bimbingan belajar. Usaha semacam itu jelas positif, namun masih ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam mencapai keberhasilan selain kecerdasan ataupun kecakapan intelektual, faktor tersebut adalah kecerdasan emosional. Karena kecerdasan intelektual saja tidak memberikan persiapan bagi individu untuk menghadapi gejolak, kesempatan ataupun kesulitan-kesulitan dan kehidupan.  Dengan kecerdasan emosional, individu mampu mengetahui dan menanggapi perasaan mereka sendiri dengan baik dan mampu membaca dan menghadapi perasaan- perasaan  orang  lain  dengan  efektif.  Individu  dengan  keterampilan  emosional yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan  berhasil  dalam kehidupan dan memiliki motivasi untuk berprestasi. Sedangkan individu yang tidak dapat menahan kendali atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merusak kemampuannya untuk memusatkan perhatian pada tugas-tugasnya dan memiliki pikiran yang jernih.

Individu yang memiliki tingkat kecerdasan  emosional  yang  lebih  baik, dapat menjadi lebih terampil dalam menenangkan dirinya dengan cepat, jarang tertular penyakit, lebih terampil dalam memusatkan perhatian, lebih baik dalam berhubungan dengan orang lain, lebih cakap  dalam  memahami  orang  lain  dan untuk kerja akademis di sekolah dasar lebih baik (Gottman, 2001:xvii).


 

BAB III

PENUTUP

 

A.      Kesimpulan

Prestasi  belajar  biasanya  ditunjukkan  dalam  bentuk  huruf  atau  angka, yang tinggi rendahnya menunjukkan seberapa jauh siswa telah menguasai bahayang telah diberikan, tetapi hal tersebut sudah tidak dapat diterima lagi karena hasil rapor tidak hanya menunjukkan seberapa jauh siswa telah menguasai materi pelajaran yang telah diberikan. Presatasi belajar  juga dipengaruhi oleh perilaku siswa, kerajinan dan keterampilan atau sikap tertentu yang  dimiliki  siswa  tersebut, yang dapat diukur dengan standar nilai tertentu oleh guru yang bersangkutan agar mendekati nilai rata-rata

Kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor yang penting yang seharusnya dimiliki oleh  siswa  yang  memiliki  kebutuhan  untuk  meraih  prestasi  belajar yang lebih  baik  di  sekolah dasar  sedangkan  prestasi  belajar  merupakan  hasil usaha belajar yang dicapai seorang siswa berupa  suatu kecakapan dari  kegiatan belajar bidang akademik di sekolah dasar pada jangka waktu tertentu yang dicatat  pada setiap akhir semester di dalam buki laporan yang disebut rapor.

B.       Saran

Demikian makalah yang dapat saya susun. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, kami menyadari bahwa makalah ini bukanlah proses akhir, tetapi merupakan langkah awal yang masih banyak memerlukan perbaikan. Oleh karena itu saya sangat mengharapkan tanggapan, saran dan kritik yang membangun demi sempurnanya makalah kami yang selanjutnya. Dan semoga kita bisa bersama-sama mempelajari materi ini dan selanjutnya.






No comments:

Post a Comment

The general website for my Indekost firm.

Kost JRH 98 Ujung Aspal Apartment Open everyday in 24/7 Get Quote? Please contact the homeowner. Call Now: +6281380762294 Get Directions? It...