Revolusi indutri 3.0 atau juga disebut revolusi
ketiga dimulai sekitar tahun 1969-1970, dipicu oleh munculnya mesin yang dapat
bergerak dan berpikir secara otomatis, yaitu computer dan robot.
Selanjutnya mulai tahun 2011, perkembangan teknologi
otomatisasi dengan teknologi cyber tanpa disadari dunia sudah masuk pada tahap
revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 adalah suatu bentuk transformasi yang
komprehensif pada aspek produksi, teknologi digital, internet dengan industry konvensional.
Selanjutnya, keterhubungan entitas yang dapat
berkomunikasi dengan cepat disebuah lingkungan industry. Bentuk integrasi dari Cyber
Physical System (CPS) yang dapat menggabungkan dunia nyata dan dunia maya,
melalui penggabungan proses fisik dan teknologi computer dan jaringan9.
Revolusi 4.0 mendapatkan respon dari berbagai belahan
dunia, Para ahli di Jerman pada tahun 2011, menyatakan bahwa dunia memasuki era
inovasi baru, hingga pada tahun 2015 Jerman membentuk tim khusus penerapan
industri 4.0, hal senada juga dijalankan oleh Amerika Serikat, dimana Mereka menggerakan
Smart Manufacturing Leadership Coalition (MLC), Sebuah Organisasi
Nirlaba yang terdiri dari produsen, pemasok, perusahaan, teknologi, Lembaga pemerintah,
Universitas dan laboratorium yang memiliki tujuan untuk memajukan cara berpikir
Revolusi Industri 4.0.
Revolusi industri digital yang baru ini menjanjikan
peningkatan fleksibilitas di bidang manufaktur, kustomisasi massal, peningkatan
kecepatan, kualitas yang lebih baik, dan peningkatan produktivitas. Namun untuk
mendapatkan manfaat ini, perusahaan perlu berinvestasi dalam peralatan,
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan analisis data serta integrasi
aliran data di seluruh rantai nilai global.
Hal yang berbeda, di rencanakan oleh Jepang, pada
tahun 2019 Jepang menggagas sebuah peradaban baru yang disebut society 5.0. Gagasan
ini muncul atas respon yang terjadi akibat revolusi 4.0.
2. Fenomena Saat ini
Saat ini, kita menghadapi
revolusi industri keempat yang dikenal dengan Revolusi Industri 4.0. Ini
merupakan era inovasi disruptif, di mana inovasi ini berkembang sangat pesat,
sehingga mampu membantu terciptanya pasar baru. Inovasi ini juga mampu
mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada dan lebih dahsyat lagi mampu
menggantikan teknologi yang sudah ada.
3. Era Society 5.0
Jepang melahirkan sebuah
konsep Society 5.0, yang didefinisikan sebagai sebuah masyarakat yang berpusat
pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah
sosial melalui sistem yang sangat mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik.
4. Penerapan Society 5.0
Realisasi Society 5.0 bertujuan
menciptakan masyarakat di mana dapat menyelesaikan berbagai tantangan sosial
dengan memasukkan inovasi revolusi industri 4.0 (mis. IoT, data besar,
kecerdasan buatan (AI), robot, dan berbagi ekonomi) ke dalam setiap industri
dan kehidupan sosial.
5. Tantangan
dunia Pendidikan Indonesia di Revolusi 4.0
Indonesia
merupakan negara berkembang, dimana penduduknya belum secara merata mengenal
revolusi industri 4.0 atau society 5.0. Tetapi tanda disadari, mereka telah merasakan
dampak dari revolusi tersebut, dimana peran manusia digantikan oleh
mesin/robot/Artificial Intelligence. Sebanyak 75-375 juta tenaga kerja global
beralih profesi. Selanjutnya (15, (Gartner, 2017)) menyatakan bahwa sebanyak
1,8 juta jumlah pekerjaan digantikan dengan Artificial Intelligence.
6. Tantangan
Pendidikan Masa Depan
Kompleksitas
masalah Pendidikan di Indonesia membutuhkan suatu solusi yang harus di tinjau
dari sudut pandang sistem. Secara global, Indonesia menduduki kategori
peringkat ke-71 dari 77 negara, di tinjau dari nilai rata-rata matematika, IPA
dan membaca.
7. Perspektif
Manajemen Pendidikan tehadap revolusi indutri 4.0 dan Society 5.0
Berbagai
tantangan, tuntutan kompetensi yang telah disebutkan di atas, maka semua pihak
harus mempersiapkan diri dan berbenah dalam melakukan perbaikan dan perubahan
dengan tujuan meningkatkan mutu Pendidikan, dimana pendidikan merupakan sebuah
sistem maka perubahan juga harus dimulai secara sistemik.
8.
Problematika Pendidikan Nasional dalam Perspektif Manajemen Pendidikan
Terdapat
empat problematika Pendidikan nasional dalam perspektif manajemen Pendidikan,
diantaranya;
a. Pemerataan; permasalahan pemerataan Pendidikan terjadi pada tenaga guru,
kemampuan ekonomi masyarakat yang lemah, dan sarana /prasarana kelas.
b. Relevansi; masih lemahnya Pendidikan dalam menjalin kemitraan dengan Dunia
Usaha (DU)/ Dunia Industri (DI), Pendidikan juga belum berbasis pada masyarakat
dan potensi daerah, selanjutnya kecakapan hidup yang dihasilkan melalui
Pendidikan belum optimal sesuai fitrah dan bakat seseorang.
c. Kualitas/Mutu; dimana proses pembelajaran yang konvensional, kinerja dan
kesejahteraan guru yang belum optimal, jumlah dan kualitas buku/media
pembelajaran yang belum optimal.
d. Efesiensi/Efektivitas; dimana penyelenggaraan otonomi Pendidikan yang belum
optimal, pengelolaan APBD dan APBN yang belum optimal, mutu Sumber Daya
Pengelola Pendidikan yang masih rendah.
9.
Pembelajaran 4.0 Merespon Era Revolusi Industri 4.0
Harapan Pendidikan
Indonesia, melalui pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia masa depan,
diantaranya ;
a. SDM Indonesia berkarakter kuat, yang bercirikan jujut, akhlak mulia, mandiri
dan berintegritas.
b. SDM Indonesia memiliki multi kecakapan abad 21 dan bersertifikat, dimana SDM
Indonesia memiliki kompetensi berpikir kritis dan pemecahan masalah, kecakapan
berkomunikasi, kreativitas dan inovasi, kolaborasi, kecakapan literasi, dan
mempunyai lulusan vokasi yang berkompetensi dan bersertifikat.
c.
SDM Indonesia merupakan sumber daya pembelajar yang inovatif, mempunyai jiwa
menjadi enterpreuner.
d. SDM Indonesia memiliki kompetensi Kewargaan Global, dimana SDM berwawasan
global, yang dapat bekerja dan memiliki aktivitas hidup sebagai warga negara
yang baik dalam tatanan kehidupan dunia.
e. SDM Indonesia memiliki sikap elastis dan pembelajar sepanjang hayat, dimana
memiliki kemampuan akademik, berpikir kritis, berorentasi pada pemecahan
masalah, berkemampuan untuk belajar meninggalkan pemikiran yang lama dan
belajar lagi untuk hal-hal baru, memiliki keterampilan pengembangan individu
dan sosial.
(semuanya dikutip dari: Suryadi - Pembelajaran
Era Disruptif Menuju Masyarakat 5.0 - Universitas Negeri Jakarta, 2020)
Suryadi (2020) Pembelajaran Era Disruptif
Menuju Masyarakat 5.0, Universitas Negeri Jakarta
KESIMPULAN
Pendidikan karakter merupakan hal yang
bersifat fundamental dalam rangka membentuk karakter atau pribadi peserta
didik. Hal yang dapat dilakukan dalam menguatkan pendidikan pendidikan karakter
adalah dengan adanya pengintegrasian baik itu guru, orang tua, dan juga
pihak-pihak lainnya dalam rangka menyongsong era masyarakat 5.0. Melalui
model-model pembelajaran yang komprehensif juga nantinya diharapkan dapat
berimplikasi dengan baik.
Sukarno, Mohamad (2020) Penguatan Pendidikan Karakter dalam Era Masyarakat 5.0, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Daftar Pustaka
Christensen, C. M. (1997). The
Innovator’s Dilemma. Harvard: Harvard Business.
Darwin, C. (2004). On The Origin Of
Species. castle book.
Friedman, T. . (2006). sejarah
ringkas abad ke 21. Dian Rakyat.
Fund, I. M. (2000). Globalization:
Threats or Opportunity.
Hardiman, F. . (2004). Filsafat
Modern: Dari Machiavelli Sampai Nietzsche. jakarta: gramedia pustaka utama.
Hopkin, A. . (2002). Globalization
In World History. london: pimlico.
Jacob, T. (1988). Manusia Ilmu dan
Teknologi. yogyakarta: Tiara wacana.
Khasali, R. (2018). Strawberry
Generation. Jakarta: Mizan.
Kusumohamidjojo. (2009). Filsafat
Kebudayaan: Proses Realisasi Manusia. Yogyakarta: Jalasutra.
Prasetyo, B. (2018). Alam dan
Manusia. Waskita, 37–46.
Ritzer, G. (2010). Globalization: A
Basic Text. English: Wiley-Blakwell.
Sandu, C. (2012). Globalization:
Definition, Processes and Concepts. Journal Of Natıonal Instıtute Of
Statıstıcs.
Shwab, K. (2016). The Fourth
Industrial Revolution. New York: Crown Business.
Toffler, A. (1980). The Third Wave.
Bantam Books.