Saturday, February 13, 2021

Revolusi Industri 4.0 dan Tantangan Perubahan System Pendidikan di Indonesia

 

Revolusi Industri 4.0 dan Tantangan Perubahan System Pendidikan di Indonesia








Oleh : R Arryo Prawira Y / 1882050037
UNIVERSITAS PANCA SAKTI
2021



Abstrak

 

Penelitian yang berjudul Revolusi Industri 4.0 dan Tantangan System Pendidikan di Indonesia berisi kajian dan studi literatur tentang Pendidikan di Indonesia dalam menghadapi era revolusi industry 4.0 menuju society 5.0.

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif. Data yang diperoleh berasal dari kajian studi pustaka yang dianalisis secara filosofis. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah bahwa revolusi industri tidak hanya mendisrupsi bidang teknologi saja, namun juga bidang lainnya, seperti hukum, ekonomi, sosial, dan Pendidikan. Untuk mengatasi era disrupsi tersebut maka diperlukan revitalisasi peran ilmu Pendidikan khususnya sebagai dasar acuan pengembangan teknologi agar teknologi tidak terlepas dari nilai-nilai kemanusiaan.


Pendahuluan

 

Saat ini dunia telah memasuki era revolusi industri generasi 4.0 yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi serta perkembangan sistem digital, kecerdasan artifisial, dan virtual. Dengan semakin konvergennya batas antara manusia, mesin dan sumber daya lainnya, teknologi informasi dan komunikasi tentu berimbas pula pada berbagai sektor kehidupan. Salah satunya yakni berdampak terhadap sistem pendidikan di Indonesia.


 Keberhasilan suatu Negara dalam menghadapi revolusi industri 4.0, turut ditentukan oleh kualitas dari pendidik seperti guru. Para guru dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global. Dalam situasi ini, setiap lembaga pendidikan harus mempersiapkan oritentasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan. Literasi lama yang mengandalkan baca, tulis dan matematika harus diperkuat dengan mempersiapkan literasi baru yaitu literasi data, teknologi dan sumber daya manusia. Literasi data adalah kemampuan untuk membaca, analisa dan menggunakan informasi dari data dalam dunia digital. Kemudian, literasi teknologi adalah kemampuan untuk memahami sistem mekanika dan teknologi dalam dunia kerja. Sedangkan literasi sumber daya manusia yakni kemampuan berinteraksi dengan baik, tidak kaku, dan berkarakter.  Lase, Delipiter (2018) Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0, STT BNKP Sundermann.


1. Revolusi Industri

Perubahan yang signifikan pada bidang perekonomian, yang terjadi pada abad-18 dimulai pada tahun 1784, dimana kegiatan ekonomi agraris berubah dengan cepat masuk pada ekonomi industri yang menggunakan mesin dalam mengolah bahan mentah menjadi bahan siap pakai. Pada masa itu telah ditemukan mesin uap yang kemudian juga digunakan untuk proses produksi bahan secara masal. Perubahan yang begitu cepat dari ekonomi agraris ke ekonomi industry, sering disebut sebagai era revolusi industry 1.0.

Gambar: “Tahap-tahap menuju Society 5.0"



Selanjutnya pada tahun 1870, ilmu pengetahuan semakin berkembang, ditandai dengan adanya penemuan tenaga listrik sekitar abad ke-20. Hal ini memberikan perubahan pada sistem industri yang semula hanya menggunakan mesin untuk produksi masal, kini telah diganti dengan menggunakan tenaga listrik dan juga mampu menciptakan ban berjalan, era ini disebut sebagai era revolusi industry 2.0. Hal ini semakin membuat percepatan ekonomi dan juga pengurangan jumlah tenaga kerja manusia.

Revolusi indutri 3.0 atau juga disebut revolusi ketiga dimulai sekitar tahun 1969-1970, dipicu oleh munculnya mesin yang dapat bergerak dan berpikir secara otomatis, yaitu computer dan robot.

Selanjutnya mulai tahun 2011, perkembangan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber tanpa disadari dunia sudah masuk pada tahap revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 adalah suatu bentuk transformasi yang komprehensif pada aspek produksi, teknologi digital, internet dengan industry konvensional.

 

Selanjutnya, keterhubungan entitas yang dapat berkomunikasi dengan cepat disebuah lingkungan industry. Bentuk integrasi dari Cyber Physical System (CPS) yang dapat menggabungkan dunia nyata dan dunia maya, melalui penggabungan proses fisik dan teknologi computer dan jaringan9.

 

Revolusi 4.0 mendapatkan respon dari berbagai belahan dunia, Para ahli di Jerman pada tahun 2011, menyatakan bahwa dunia memasuki era inovasi baru, hingga pada tahun 2015 Jerman membentuk tim khusus penerapan industri 4.0, hal senada juga dijalankan oleh Amerika Serikat, dimana Mereka menggerakan Smart Manufacturing Leadership Coalition (MLC), Sebuah Organisasi Nirlaba yang terdiri dari produsen, pemasok, perusahaan, teknologi, Lembaga pemerintah, Universitas dan laboratorium yang memiliki tujuan untuk memajukan cara berpikir Revolusi Industri 4.0.

 

Revolusi industri digital yang baru ini menjanjikan peningkatan fleksibilitas di bidang manufaktur, kustomisasi massal, peningkatan kecepatan, kualitas yang lebih baik, dan peningkatan produktivitas. Namun untuk mendapatkan manfaat ini, perusahaan perlu berinvestasi dalam peralatan, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan analisis data serta integrasi aliran data di seluruh rantai nilai global.

 

Hal yang berbeda, di rencanakan oleh Jepang, pada tahun 2019 Jepang menggagas sebuah peradaban baru yang disebut society 5.0. Gagasan ini muncul atas respon yang terjadi akibat revolusi 4.0.


2. Fenomena Saat ini

Saat ini, kita menghadapi revolusi industri keempat yang dikenal dengan Revolusi Industri 4.0. Ini merupakan era inovasi disruptif, di mana inovasi ini berkembang sangat pesat, sehingga mampu membantu terciptanya pasar baru. Inovasi ini juga mampu mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada dan lebih dahsyat lagi mampu menggantikan teknologi yang sudah ada.


3. Era Society 5.0

Jepang melahirkan sebuah konsep Society 5.0, yang didefinisikan sebagai sebuah masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang sangat mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik.


4. Penerapan Society 5.0

Realisasi Society 5.0 bertujuan menciptakan masyarakat di mana dapat menyelesaikan berbagai tantangan sosial dengan memasukkan inovasi revolusi industri 4.0 (mis. IoT, data besar, kecerdasan buatan (AI), robot, dan berbagi ekonomi) ke dalam setiap industri dan kehidupan sosial.


5. Tantangan dunia Pendidikan Indonesia di Revolusi 4.0

            Indonesia merupakan negara berkembang, dimana penduduknya belum secara merata mengenal revolusi industri 4.0 atau society 5.0. Tetapi tanda disadari, mereka telah merasakan dampak dari revolusi tersebut, dimana peran manusia digantikan oleh mesin/robot/Artificial Intelligence. Sebanyak 75-375 juta tenaga kerja global beralih profesi. Selanjutnya (15, (Gartner, 2017)) menyatakan bahwa sebanyak 1,8 juta jumlah pekerjaan digantikan dengan Artificial Intelligence.


6. Tantangan Pendidikan Masa Depan

Kompleksitas masalah Pendidikan di Indonesia membutuhkan suatu solusi yang harus di tinjau dari sudut pandang sistem. Secara global, Indonesia menduduki kategori peringkat ke-71 dari 77 negara, di tinjau dari nilai rata-rata matematika, IPA dan membaca.


7. Perspektif Manajemen Pendidikan tehadap revolusi indutri 4.0 dan Society 5.0

Berbagai tantangan, tuntutan kompetensi yang telah disebutkan di atas, maka semua pihak harus mempersiapkan diri dan berbenah dalam melakukan perbaikan dan perubahan dengan tujuan meningkatkan mutu Pendidikan, dimana pendidikan merupakan sebuah sistem maka perubahan juga harus dimulai secara sistemik.


8. Problematika Pendidikan Nasional dalam Perspektif Manajemen Pendidikan

Terdapat empat problematika Pendidikan nasional dalam perspektif manajemen Pendidikan, diantaranya;

a. Pemerataan; permasalahan pemerataan Pendidikan terjadi pada tenaga guru, kemampuan ekonomi masyarakat yang lemah, dan sarana /prasarana kelas.

b. Relevansi; masih lemahnya Pendidikan dalam menjalin kemitraan dengan Dunia Usaha (DU)/ Dunia Industri (DI), Pendidikan juga belum berbasis pada masyarakat dan potensi daerah, selanjutnya kecakapan hidup yang dihasilkan melalui Pendidikan belum optimal sesuai fitrah dan bakat seseorang.

c. Kualitas/Mutu; dimana proses pembelajaran yang konvensional, kinerja dan kesejahteraan guru yang belum optimal, jumlah dan kualitas buku/media pembelajaran yang belum optimal.

d. Efesiensi/Efektivitas; dimana penyelenggaraan otonomi Pendidikan yang belum optimal, pengelolaan APBD dan APBN yang belum optimal, mutu Sumber Daya Pengelola Pendidikan yang masih rendah.


9. Pembelajaran 4.0 Merespon Era Revolusi Industri 4.0

Harapan Pendidikan Indonesia, melalui pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia masa depan, diantaranya ;
a. SDM Indonesia berkarakter kuat, yang bercirikan jujut, akhlak mulia, mandiri dan berintegritas.

b. SDM Indonesia memiliki multi kecakapan abad 21 dan bersertifikat, dimana SDM Indonesia memiliki kompetensi berpikir kritis dan pemecahan masalah, kecakapan berkomunikasi, kreativitas dan inovasi, kolaborasi, kecakapan literasi, dan mempunyai lulusan vokasi yang berkompetensi dan bersertifikat.

c. SDM Indonesia merupakan sumber daya pembelajar yang inovatif, mempunyai jiwa menjadi enterpreuner.

d. SDM Indonesia memiliki kompetensi Kewargaan Global, dimana SDM berwawasan global, yang dapat bekerja dan memiliki aktivitas hidup sebagai warga negara yang baik dalam tatanan kehidupan dunia.

e. SDM Indonesia memiliki sikap elastis dan pembelajar sepanjang hayat, dimana memiliki kemampuan akademik, berpikir kritis, berorentasi pada pemecahan masalah, berkemampuan untuk belajar meninggalkan pemikiran yang lama dan belajar lagi untuk hal-hal baru, memiliki keterampilan pengembangan individu dan sosial.

(semuanya dikutip dari: Suryadi - Pembelajaran Era Disruptif Menuju Masyarakat 5.0 - Universitas Negeri Jakarta, 2020)

Suryadi (2020) Pembelajaran Era Disruptif Menuju Masyarakat 5.0, Universitas Negeri Jakarta

 

KESIMPULAN

Pendidikan karakter merupakan hal yang bersifat fundamental dalam rangka membentuk karakter atau pribadi peserta didik. Hal yang dapat dilakukan dalam menguatkan pendidikan pendidikan karakter adalah dengan adanya pengintegrasian baik itu guru, orang tua, dan juga pihak-pihak lainnya dalam rangka menyongsong era masyarakat 5.0. Melalui model-model pembelajaran yang komprehensif juga nantinya diharapkan dapat berimplikasi dengan baik.


Sukarno, Mohamad (2020) Penguatan Pendidikan Karakter dalam Era Masyarakat 5.0, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

 

Daftar Pustaka

 

Christensen, C. M. (1997). The Innovator’s Dilemma. Harvard: Harvard Business.

Darwin, C. (2004). On The Origin Of Species. castle book.

Friedman, T. . (2006). sejarah ringkas abad ke 21. Dian Rakyat.

Fund, I. M. (2000). Globalization: Threats or Opportunity.

Hardiman, F. . (2004). Filsafat Modern: Dari Machiavelli Sampai Nietzsche. jakarta: gramedia pustaka utama.

Hopkin, A. . (2002). Globalization In World History. london: pimlico.

Jacob, T. (1988). Manusia Ilmu dan Teknologi. yogyakarta: Tiara wacana.

Khasali, R. (2018). Strawberry Generation. Jakarta: Mizan.

Kusumohamidjojo. (2009). Filsafat Kebudayaan: Proses Realisasi Manusia. Yogyakarta: Jalasutra.

Prasetyo, B. (2018). Alam dan Manusia. Waskita, 37–46.

Ritzer, G. (2010). Globalization: A Basic Text. English: Wiley-Blakwell.

Sandu, C. (2012). Globalization: Definition, Processes and Concepts. Journal Of Natıonal Instıtute Of Statıstıcs.

Shwab, K. (2016). The Fourth Industrial Revolution. New York: Crown Business.

Toffler, A. (1980). The Third Wave. Bantam Books.
























No comments:

Post a Comment

The general website for my Indekost firm.

Kost JRH 98 Ujung Aspal Apartment Open everyday in 24/7 Get Quote? Please contact the homeowner. Call Now: +6281380762294 Get Directions? It...