Thursday, May 27, 2021

Tugas UAS MatKul PAi 2 UTS Semester Genap (2) TA 2021

 


Tugas UAS MK Pendidikan Agama Islam 2


(Dosen Pengampu Bpk. Son Haji, S.Ag. MM)





Oleh :

R. Arryo Prawira Y. / 188205037

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris


FIP

UPSB

2021



Tanya jawab tentang Ma’rifatullah


Part 1: “MA’RIFATULLAH: MENERATAS JALAN MENUJU ALLAH”

 

1.  Oleh karena nilai diri, Al-Ghazali dapat mencapai derajat ma’rifatullah tergantung pada… kemampuannya kesadaran dalam mengenal diri sendiri Juga

A. Rasa Percaya Diri

B. Bidang Kebakatan

C. Kemahiran Ilmu

D. Pencapaian Orang Lain

E. Kemampuan Kesadaran


2. Ma’rifat merupakan pemberian dari allah atas segala kekuasaan dan kasih sayangnya. Hal tersebut merupakan pengertian menurut…

A. Al-Farabi

B. Zu al Nun Nun al-Misri

C. Rumi

D. Al-Ghazali

E. Al Husayn bin Mansur Al-Allaj



3. Bunyi Hadist Qudsi yang menyatakan tentang Ma’rifat berasal sebagai berikut…

A. “Barangsiapa berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, Alloh menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya.”

B. “Sesungguhnya perkara/amal seorang hamba yang dihisab pertama kali adalah shalatnya.”

C. “Tuhanmu bangga terhadap seorang pengembala kambing, yang berada di atas gunung/bukit.”

D. “ Aku adalah harta berharga yang tersembunyi dan Aku ingin diketahui sehingga Aku menciptakan dunia.”

E. “Ketika Allah menetapkan penciptaan makhluk, Dia menuliskan dalam kitab-Nya ketetapan untuk diri-Nya sendiri.”

 

4. Bila seorang hamba allah swt sudah mencapai ma’rifat maka pikiran pikirannya akan menjadi sarana …

A. Ilham

B. Qauniyah

C. Aqliyah

D. Tawakal

E. Akhlak



5. Ma’rifat al Burhan wa al Istidlal ( khas ) yang merupakan ma’rifat nya mutakalimin dan filsuf metode akal budi ), yaitu ma’rifat tentang…

A. tidak tersampainya tingkat ma’rifat tanpa adanya usaha yang kuat

B. Allah SWT melalui sifat dan ke Esa an Nya

C. Allah SWT melalui upaya upaya pemikiran dan pembuktian akal sehat yang dimilikinya.

D. tiga macam pengetahuan Allah SWT

E. landasan untuk mempelajari segala tanda tanda kebesarannya di bumi ini agar terungkapkebenaran dan pengetahuan tentang ciptaan-Nya.


6. Ma’rifat al Tauhid  (Awam) yang diperoleh kaum awam dalam mengenal Allah SWT melalui perantara … , tanpa disertai dengan argumentasi.

A. Puasa

B. Haji

C. Sholat

D. Syahadat

E. Zakat


7. Orang awam (Insan Ma’rifat Al-Tauhid) mempunyai sifat …

A. Semuanya Benar

B.  mudah mengikuti kepercayaan

C. lekas percaya

D. mudah mempercayai kabar berita

E. Tidak mau memikirkan secara mendalam




8. Ma’rifat Waliyullah merupakan pengetahuan yang tertinggi karena…

A. tidak ada kekhawatiran terhadap orang dan tidak pula yang bisa bersedih hati


B. Membolehkan orang untuk tidak cukup melalui belajar , usaha dan pembuktian


C. mengamalkan laku suluk beribadah di belakang tirai penghalang dari Allah


D. lebih mendekatkan diri pada hal-hal yang bersifat duniawi dan senang mendekat dengan orang lain


E. tampak secara jelas padanya sifat-sifat Allah (tajalli)





9. Memeriksa membandingkan dengan segenap kekuatan akalnya yang mereka miliki merupakan golongan dari …

A. Ma’rifat hakiki khawas al khawas ) merupakan
B. Buah Ma'rifatullah
C. Ma’rifat al Tauhid
D. Ma'rifatullah menurut Ibnul Qoyyim
E. Ma’rifat al Burhan wa al Istidlal


10. Ma’rifat Khas memiliki pemahaman pengetahuan yang bersifat rasional melalui

A. memperoleh ketidakcukupan belajar
B. mempercayai lekas kehidupan
C. berpikir spekulatif
D. pemberian dari allah atas
E. mengajarkan Nabi Adam



Part 2: “URGENSI DAN CIRI-CIRI MA’RIFATULLAH”

 


1. Rasulullah saw mengungkapkan bahwa umat Islam melakukan … untuk perjalanan pada hari kiamat nanti.

A. 3 periode

B. 5 periode

C. 7 periode

D. 6 periode

E. 4 periode






2. “Dan Allah sungguh sungguh akan menggantikan ketakutan mereka dengan keamanan…” Merupakan bunyi cuplikan arti surat …

A. QS. An-Nur: 55

B. QS. Al-Baqarah: 126

C. QS. Yaasin: 12

D. QS. Thaha : 14

E. QS. Fushshilat: 53



3. Penggambaran yang salah terhadap metode untuk mengenal Allah ini , dulu maupun faktor terbesar yang menjauhkan manusia dari metode iman yang benar kepada Allah. Hal tersebut merupukan pernyataan mengenai ...

A. Perjanjian kebaikan kebaikan dari Allah SWT.

B. Keberkahan yang melimpah

C. Periode kekhalifahan yang tegak

D. Jenuh mencari namun tak juga berhasil

E. Menaikkan keimanan dan ketaqwaannya



4. “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada AIlah selain Aku, maka mengabdilah pada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku”. Adalah bunyi dari ayat Ayat Al-Qur’an?

A. QS. Fushshilat: 53

B. QS. Adz Dzariyat: 21-22

C. QS. An-Nahl: 97

D. QS. Al-Kahfi: 107-108

E. QS. Thaha: 14

 

5. Al Barakat dalam Bahasa Indonesia disebut juga dengan …

A. kehidupan yang baik

B. surga

C. keberkahan yang melimpah

D. diteguhkannya agama Islam di muka bumi

E. rasa aman dan tentram

 


6.  Allah tidak akan menyia-nyiakan bekas-bekas jari-jemari manusia karena …


A. umat Islam akan melalui lima periode dalam perjalanan hingga kiamat

B.
penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa

C. keyakinan adanya Allah melalui apa apa yang ada di alam semesta

D. memberinya kehidupan yang menyenangkan

E. kebenaran firman Allah setiap sesuatu itu punya bekasnya

 

7. Dari ayat ayat qauliyah , Allah mewahyukan firman Nya kepada …


A. para utusan Allah

B. semua benar

C. shuhuf

D. hadits qudsi

E. al-kitab







8. Barangsiapa melakukan kebaikan kebaikan laki laki maupun perempuan dan dia beriman pasti kami akan memberinya … , … yang menyenangkan.

A. kezaliman
B. keresahan
C. ketakutan
D. kehidupan
E. keamanan

 

9. Garis utama kedua telapak tangan bertuliskan nomor … untuk yang kiri serta … untuk yang kanan.

A. 81 dan 18
B. 88 dan 88
C. 11 dan 88
D. 18 dan 81
E. 18 dan 18



10. Arti dari QS Al Kahfi 107 108 yang menjelaskan tentang Al-Jannah adalah …

A. “Kalau sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, niscaya Kami tumpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka itu mendustakan, sebab itu Kami siksa mereka disebabkan usahanya itu”.

B. “Sesungguhnya orang orang yang bertaqwa itu berada dalam surga taman taman dan (di dekat) mata air mata air (yang mengalir) Dikatakan kepada mereka)”, “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman ”.

C. “Sesungguhnya orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, bagi mereka surga Firdaus lah tempatnya, mereka kekal di dalamnya tak hendak berpindah darinya ” .

D. Sesungguhnya orang orang yang beriman dan beramal shalih, untuk mereka itusurga na’’im. Mereka kekal di dalamnya. Itulah janji Allah yang sebenarnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

E. Orang orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengankezaliman (syirik), mereka itulah orang orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang orang yang mendapat petunjuk”.

 





Part 3: “MA’RIFATULLAH DAN PENDIDIKAN AKHLAK”

1.  Maqamat diambil dari Bahasa Arab yang artinya …

A. jalan Panjang

B. rumah tingkat

C. perbuatan dosa

D. tempat orang berdiri

E. amal kebajikan


2. Tgk. H. Abdullah Ujong Rimba menegaskan tentang Ma’rifatullah bahwa …

A. berupaya untuk mengenal Tuhan sedekat-dekatnya yang diawali dengan pensucian jiwa dan zikir kepada Allah.

B. tidak dapat dibeli atau dicapai melalui usaha manusia.

C. Ma’rifatullah itu mengetahui bagaimana hakikat Allah yang sebenarnya menurut dari pandangan Sufi.

D. ilmu mengetahui hakikat Allah karena demikian zat Allah.

E.  Allah memperkenalkan rahasia-rahasia-Nya kepada mereka hanya apabila hati mereka hidup dan sadar melalui zikrullah.




3. Keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian.. Pengertian tersebut merupakan arti Maqa Zuhud (tidak berduniawi) yang menurut ilmuwan yang bernama …

A. Abdul Qadir al-Jailani

B. Tgk. H. Abdullah Ujong Rimba

C. Al-Ghazali

D. Imam Syafi’i

E. Harun Nasution

 

4. Al-Ghazali mengamati tentang Maqam ke-5 yaitu Khauf (takut). Selain itu ada penjelasan maqam tersebut yang berbunyi …

A.  Hati seseorang terikat dengan Allah dan dia tidak melihat apa-apa di alam ini selain Allah

B. Rasa sakit dalam hati karena khawatir akan terjadinya sesuatu yang tidak disenangi pada masa datang.

C. Mendorong manusia meninggalkan sesuatu yangsebenarnya tidak haram.

D. Jika manusia menjauhkan diri dari segala yang haram, maka titik derajatnya rendah dengan khauf.

E. Sikap menjauhkan diri disebut dengan Wara’ (menjauhkan diri dari perbuatan dosa).



5.
Maqam Ar-Raja’ (Harapan) mempunyai suatu pernyataan yang ditandai dengan Keberadaan sesuatu yang dicintai itu pastilah didahului dengan …

A. Adanya keterikatan hati dengan sesuatu yang dicintai yang akan didapatkan pada hari esok.
B. Adanya salah satu maqam para salik (penempuh jalan menuju Allah).
C. Adanya kedudukan yang di-miliki seorang hamba pada suatu waktu.
D. Adanya mengikuti semaunya yang memandikan, tidak dapat bergerak dan bertindak.
E. Adanya mendapat apa-apa bersikap sabar dan menyerah kepada qada dan qadar Allah SWT.



6. Ma’rifatullah itu digunakan sebagai landasan utama  Pendidikan akhlak al-karimah. Jadi tujuan Ma’rifatullah tersebut adalah untuk …

A. memahami bahwa keindahan cinta yang paling hakiki adalah ketika mencintai Allah swt.
B. Berupaya untuk mengenal Tuhan sedekat-dekatnya yang diawali dengan pensucian jiwa dan zikir kepada Allah secara terus-menerus.
C. Penerapan hidupnya
hidupnya bukan untuk siapapun kecuali hanya untuk Allah, jika seseorang hidup dengan menegakkan prinsip-prinsip ma’rifatullah.
D. menggapai keindahan cinta tersebut dengan mengenal Allah.
E. Sebagai pengarah yang akan meluruskan orientasi hidup seorang muslim.

 


7. Ma’rifatullah bagi muslim adalah bekal untuk meraih prestasi hidup setinggi-setingginya. Jika kalau menerapkan Ma’rifatullah, maka hasilnya …

A. Tidak mengosongkan hati dari kotoran-kotorannya
B. Tidak mengisi hati orang muslim dan memenuhi hatinya dengan rahmat.
C. Tidak mungkin seorang muslim memiliki keyakinan dan keteguhan hidup.
D. Tidak menghadap secara utuh kepada Allah.
E. Tidak bisa terjadi karena barangsiapa keberadaannya untuk Allah, maka Allah juga baginya.

 

8. “Maka Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?...”  Cuplikan ayat tersebut merupakan arti dari …

A. (Q.S. (39) Az-Zumar: 12)
B. (Q.S. (39) Az-Zumar: 11)
C. (Q.S. (39) Az-Zumar: 21)
D. (Q.S. (39) Az-Zumar: 22)
E. (Q.S. (39) Az-Zumar: 20)

 


9. Metode Pembinaan akhlak dapat pula dilihat dari perhatian Islam terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan daripada pembinaan fisik, karena …

A. dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad saw.
B.
mengamalkan kebaikan yang telah diketahui.
C. dari jiwa yang baik inilah akan lahir perbuatan-perbuatan yang baik
D. senantiasa relevan dan aktual sampai saat ini begitu juga sangat relevan
E. untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

 

 

10. Secara umum, Tujuan ma’rifatullah yanh menguntungkan umat muslim adalah …

A. sebagai Manusia sadar bahwa hidupnya bukan untuk siapa-siapa kecuali hanya untuk Allah swt.
B. sebagai Pedoman hidup manusia yang akan Mengatur Sikap hidup terhadap masyarakat muslim
C. sebagai manusia akan kemudian memperoleh kemudahan dalam setiap urusan.
D. sebagai bekerja bukan untuk siapa-siapa kecuali hanya untuk Allah swt.
E. sebagai kebahagiaan bagi orang-orang yang senantiasa berusaha mengenal Allah.


 



 


Wednesday, May 19, 2021

Mid term test semester 2 for Sentence Practice


Tugas UTS Mata Kuliah Sentence Practice
R Arryo Prawira Y
1882050037
UPS Bekasi
Dosen Pengampu: Mrs. Dini






UTS Semester 2 Speaking practice

 





R Arryo Prawira Y / 1882050037
Speaking Practice
Dosen Pengampu : Mrs. Dini
UPS Bekasi



Selamat menyaksikan video dibawah ini:




Monday, February 15, 2021

Implementasi dan Dampak Pembelajaran Secara Daring di Era Pandemi

Implementasi dan Dampak Pembelajaran

Secara Daring di Era Pandemi


R. Arryo Prawira Y.

Pendidikan Bahasa Inggris

Universitas Panca Sakti Bekasi



    Tahun 2020 adalah tahun yang sulit bagi kita semua, meski tahun ini sudah berganti menjadi 2021, Indonesia dan negara lain masih dilanda pandemi Covid-19. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pada masa pandemi adalah kebijakan pembelajaran jarak jauh antar semua siswa karena adanya pembatasan sosial. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menerbitkan surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) poin ke 2 yaitu proses belajar dari rumah. (Kemendikbud.go.id) 


    Pembelajaran daring adalah pembelajaran yang mampu mempertemukan mahasiswa dan dosen untuk melaksanakan interaksi pembelajaran dengan bantuan internet yang direncanakan di tempat lain atau di luar tempatnya mengajar. Sistem pembelajaran yang sangat berubah ini membawa dampak besar dalam dunia pendidikan. Perubahan pembelajaran tersebut merupakan keadaan yang mengharuskan memasuki literasi informasi dalam budaya akademik (Nursobah, 2020).


    Menurut Permendikbud No. 109/2013 pendidikan jarak jauh adalah proses belajar mengajar yang dilakukan secara jarak jauh melalui penggunaan berbagai media komunikasi. Oleh karena itu, pada teknis pelaksanaanya pembelajaran daring memerlukan dukungan perangkat-perangkat mobile seperti smartphone, laptop, komputer, dan tablet yang dapat dipergunakan untuk mengakses informasi kapan saja dan dimana saja. (kumparan.com)


    Pada masa pandemi ini, pemerintah sudah menyediakan fasilitas kuota gratis kepada mahasiswa tapi yang pada kenyataannya kuota gratis itu belum diberikan secara merata kepada mahasiswa. (kumparan.com)


    Untuk saat ini negara kita telah melakukan pembelajaran online untuk memutus rantai peningkatan wabah virus corona yang sedang terjadi. Tenaga dosen memilih beberapa aplikasi sebagai media pembelajaran untuk melakukan pembelajaran dan pemberian tugas. Penggunaan media pembelajaran seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran agar pembelajaran secara daring dapat berjalan efektif. Penggunaan aplikasi online dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran secara daring dinilai mampu meningkatkan kemandirian mahasiswa.




    Dampak positif pembelajaran daring antara lain proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel yang berarti mahasiswa bisa melaksanakan kuliah dimana saja dengan kompromi, habis itu ada perubahan mahasiswa yang menjadi aktif dirumah selama masa pandemi yang menyebabkan mahasiswa bisa mencari bahan ajaran secara daring, ada lagi selanjutnya adalah kemudahan mahasiswa dalam mengerjakan tugas dengan rasa percaya diri yang tinggi, dan yang terakhir adalah menghilangkan kerumunan di sekitar kampus sesuai dengan aturan protokol kesehatan yang berlaku bagi masyarakat sekitar.


    Dampak negatif pembelajaran daring antara lain terjadinya peningkatan stress terhadap orang tua yang menyebabkan kesulitan dalam menyeimbangkan antara mengurus mahasiswa dan melaksanakan kehidupan sehari-sehari selama masa pandemi berjalan, selanjutnya sering terjadinya kesalahpahaman dalam kuliah daring yang terwujudnya tantangan bagi para mahasiswa yang mau berkomunikasi dari rumah, lanjut lagi ada keterbatasan koneksi internet bagi mahasiswa yang tinggal dirumah dengan pengguna internet sangat banyak sehingga membutuhkan internet melalui hotshpot seluler, dan yang terakhir yaitu sering kelalaian para mahasiswa yang mau masuk ke kuliah online lewat zoom yang disebabkan oleh aktivitas kesibukan di media sosial.


Kesimpulan


    Jadi pembelajaran daring itu ada kelebihan dan kelemahan yang harus dihadapi dengan benar, soalnya masa pandemi COVID-19 belum tentu kapan berakhirnya. Untuk itu kita harus banyak bersabar dalam menakluki tantangan belajar online semasa pandemi tersebut untuk memutus rantai penyebaran virus corona. 

 





Saturday, February 13, 2021

Revolusi Industri 4.0 dan Tantangan Perubahan System Pendidikan di Indonesia

 

Revolusi Industri 4.0 dan Tantangan Perubahan System Pendidikan di Indonesia








Oleh : R Arryo Prawira Y / 1882050037
UNIVERSITAS PANCA SAKTI
2021



Abstrak

 

Penelitian yang berjudul Revolusi Industri 4.0 dan Tantangan System Pendidikan di Indonesia berisi kajian dan studi literatur tentang Pendidikan di Indonesia dalam menghadapi era revolusi industry 4.0 menuju society 5.0.

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif. Data yang diperoleh berasal dari kajian studi pustaka yang dianalisis secara filosofis. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah bahwa revolusi industri tidak hanya mendisrupsi bidang teknologi saja, namun juga bidang lainnya, seperti hukum, ekonomi, sosial, dan Pendidikan. Untuk mengatasi era disrupsi tersebut maka diperlukan revitalisasi peran ilmu Pendidikan khususnya sebagai dasar acuan pengembangan teknologi agar teknologi tidak terlepas dari nilai-nilai kemanusiaan.


Pendahuluan

 

Saat ini dunia telah memasuki era revolusi industri generasi 4.0 yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi serta perkembangan sistem digital, kecerdasan artifisial, dan virtual. Dengan semakin konvergennya batas antara manusia, mesin dan sumber daya lainnya, teknologi informasi dan komunikasi tentu berimbas pula pada berbagai sektor kehidupan. Salah satunya yakni berdampak terhadap sistem pendidikan di Indonesia.


 Keberhasilan suatu Negara dalam menghadapi revolusi industri 4.0, turut ditentukan oleh kualitas dari pendidik seperti guru. Para guru dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global. Dalam situasi ini, setiap lembaga pendidikan harus mempersiapkan oritentasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan. Literasi lama yang mengandalkan baca, tulis dan matematika harus diperkuat dengan mempersiapkan literasi baru yaitu literasi data, teknologi dan sumber daya manusia. Literasi data adalah kemampuan untuk membaca, analisa dan menggunakan informasi dari data dalam dunia digital. Kemudian, literasi teknologi adalah kemampuan untuk memahami sistem mekanika dan teknologi dalam dunia kerja. Sedangkan literasi sumber daya manusia yakni kemampuan berinteraksi dengan baik, tidak kaku, dan berkarakter.  Lase, Delipiter (2018) Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0, STT BNKP Sundermann.


1. Revolusi Industri

Perubahan yang signifikan pada bidang perekonomian, yang terjadi pada abad-18 dimulai pada tahun 1784, dimana kegiatan ekonomi agraris berubah dengan cepat masuk pada ekonomi industri yang menggunakan mesin dalam mengolah bahan mentah menjadi bahan siap pakai. Pada masa itu telah ditemukan mesin uap yang kemudian juga digunakan untuk proses produksi bahan secara masal. Perubahan yang begitu cepat dari ekonomi agraris ke ekonomi industry, sering disebut sebagai era revolusi industry 1.0.

Gambar: “Tahap-tahap menuju Society 5.0"



Selanjutnya pada tahun 1870, ilmu pengetahuan semakin berkembang, ditandai dengan adanya penemuan tenaga listrik sekitar abad ke-20. Hal ini memberikan perubahan pada sistem industri yang semula hanya menggunakan mesin untuk produksi masal, kini telah diganti dengan menggunakan tenaga listrik dan juga mampu menciptakan ban berjalan, era ini disebut sebagai era revolusi industry 2.0. Hal ini semakin membuat percepatan ekonomi dan juga pengurangan jumlah tenaga kerja manusia.

Revolusi indutri 3.0 atau juga disebut revolusi ketiga dimulai sekitar tahun 1969-1970, dipicu oleh munculnya mesin yang dapat bergerak dan berpikir secara otomatis, yaitu computer dan robot.

Selanjutnya mulai tahun 2011, perkembangan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber tanpa disadari dunia sudah masuk pada tahap revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 adalah suatu bentuk transformasi yang komprehensif pada aspek produksi, teknologi digital, internet dengan industry konvensional.

 

Selanjutnya, keterhubungan entitas yang dapat berkomunikasi dengan cepat disebuah lingkungan industry. Bentuk integrasi dari Cyber Physical System (CPS) yang dapat menggabungkan dunia nyata dan dunia maya, melalui penggabungan proses fisik dan teknologi computer dan jaringan9.

 

Revolusi 4.0 mendapatkan respon dari berbagai belahan dunia, Para ahli di Jerman pada tahun 2011, menyatakan bahwa dunia memasuki era inovasi baru, hingga pada tahun 2015 Jerman membentuk tim khusus penerapan industri 4.0, hal senada juga dijalankan oleh Amerika Serikat, dimana Mereka menggerakan Smart Manufacturing Leadership Coalition (MLC), Sebuah Organisasi Nirlaba yang terdiri dari produsen, pemasok, perusahaan, teknologi, Lembaga pemerintah, Universitas dan laboratorium yang memiliki tujuan untuk memajukan cara berpikir Revolusi Industri 4.0.

 

Revolusi industri digital yang baru ini menjanjikan peningkatan fleksibilitas di bidang manufaktur, kustomisasi massal, peningkatan kecepatan, kualitas yang lebih baik, dan peningkatan produktivitas. Namun untuk mendapatkan manfaat ini, perusahaan perlu berinvestasi dalam peralatan, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan analisis data serta integrasi aliran data di seluruh rantai nilai global.

 

Hal yang berbeda, di rencanakan oleh Jepang, pada tahun 2019 Jepang menggagas sebuah peradaban baru yang disebut society 5.0. Gagasan ini muncul atas respon yang terjadi akibat revolusi 4.0.


2. Fenomena Saat ini

Saat ini, kita menghadapi revolusi industri keempat yang dikenal dengan Revolusi Industri 4.0. Ini merupakan era inovasi disruptif, di mana inovasi ini berkembang sangat pesat, sehingga mampu membantu terciptanya pasar baru. Inovasi ini juga mampu mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada dan lebih dahsyat lagi mampu menggantikan teknologi yang sudah ada.


3. Era Society 5.0

Jepang melahirkan sebuah konsep Society 5.0, yang didefinisikan sebagai sebuah masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang sangat mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik.


4. Penerapan Society 5.0

Realisasi Society 5.0 bertujuan menciptakan masyarakat di mana dapat menyelesaikan berbagai tantangan sosial dengan memasukkan inovasi revolusi industri 4.0 (mis. IoT, data besar, kecerdasan buatan (AI), robot, dan berbagi ekonomi) ke dalam setiap industri dan kehidupan sosial.


5. Tantangan dunia Pendidikan Indonesia di Revolusi 4.0

            Indonesia merupakan negara berkembang, dimana penduduknya belum secara merata mengenal revolusi industri 4.0 atau society 5.0. Tetapi tanda disadari, mereka telah merasakan dampak dari revolusi tersebut, dimana peran manusia digantikan oleh mesin/robot/Artificial Intelligence. Sebanyak 75-375 juta tenaga kerja global beralih profesi. Selanjutnya (15, (Gartner, 2017)) menyatakan bahwa sebanyak 1,8 juta jumlah pekerjaan digantikan dengan Artificial Intelligence.


6. Tantangan Pendidikan Masa Depan

Kompleksitas masalah Pendidikan di Indonesia membutuhkan suatu solusi yang harus di tinjau dari sudut pandang sistem. Secara global, Indonesia menduduki kategori peringkat ke-71 dari 77 negara, di tinjau dari nilai rata-rata matematika, IPA dan membaca.


7. Perspektif Manajemen Pendidikan tehadap revolusi indutri 4.0 dan Society 5.0

Berbagai tantangan, tuntutan kompetensi yang telah disebutkan di atas, maka semua pihak harus mempersiapkan diri dan berbenah dalam melakukan perbaikan dan perubahan dengan tujuan meningkatkan mutu Pendidikan, dimana pendidikan merupakan sebuah sistem maka perubahan juga harus dimulai secara sistemik.


8. Problematika Pendidikan Nasional dalam Perspektif Manajemen Pendidikan

Terdapat empat problematika Pendidikan nasional dalam perspektif manajemen Pendidikan, diantaranya;

a. Pemerataan; permasalahan pemerataan Pendidikan terjadi pada tenaga guru, kemampuan ekonomi masyarakat yang lemah, dan sarana /prasarana kelas.

b. Relevansi; masih lemahnya Pendidikan dalam menjalin kemitraan dengan Dunia Usaha (DU)/ Dunia Industri (DI), Pendidikan juga belum berbasis pada masyarakat dan potensi daerah, selanjutnya kecakapan hidup yang dihasilkan melalui Pendidikan belum optimal sesuai fitrah dan bakat seseorang.

c. Kualitas/Mutu; dimana proses pembelajaran yang konvensional, kinerja dan kesejahteraan guru yang belum optimal, jumlah dan kualitas buku/media pembelajaran yang belum optimal.

d. Efesiensi/Efektivitas; dimana penyelenggaraan otonomi Pendidikan yang belum optimal, pengelolaan APBD dan APBN yang belum optimal, mutu Sumber Daya Pengelola Pendidikan yang masih rendah.


9. Pembelajaran 4.0 Merespon Era Revolusi Industri 4.0

Harapan Pendidikan Indonesia, melalui pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia masa depan, diantaranya ;
a. SDM Indonesia berkarakter kuat, yang bercirikan jujut, akhlak mulia, mandiri dan berintegritas.

b. SDM Indonesia memiliki multi kecakapan abad 21 dan bersertifikat, dimana SDM Indonesia memiliki kompetensi berpikir kritis dan pemecahan masalah, kecakapan berkomunikasi, kreativitas dan inovasi, kolaborasi, kecakapan literasi, dan mempunyai lulusan vokasi yang berkompetensi dan bersertifikat.

c. SDM Indonesia merupakan sumber daya pembelajar yang inovatif, mempunyai jiwa menjadi enterpreuner.

d. SDM Indonesia memiliki kompetensi Kewargaan Global, dimana SDM berwawasan global, yang dapat bekerja dan memiliki aktivitas hidup sebagai warga negara yang baik dalam tatanan kehidupan dunia.

e. SDM Indonesia memiliki sikap elastis dan pembelajar sepanjang hayat, dimana memiliki kemampuan akademik, berpikir kritis, berorentasi pada pemecahan masalah, berkemampuan untuk belajar meninggalkan pemikiran yang lama dan belajar lagi untuk hal-hal baru, memiliki keterampilan pengembangan individu dan sosial.

(semuanya dikutip dari: Suryadi - Pembelajaran Era Disruptif Menuju Masyarakat 5.0 - Universitas Negeri Jakarta, 2020)

Suryadi (2020) Pembelajaran Era Disruptif Menuju Masyarakat 5.0, Universitas Negeri Jakarta

 

KESIMPULAN

Pendidikan karakter merupakan hal yang bersifat fundamental dalam rangka membentuk karakter atau pribadi peserta didik. Hal yang dapat dilakukan dalam menguatkan pendidikan pendidikan karakter adalah dengan adanya pengintegrasian baik itu guru, orang tua, dan juga pihak-pihak lainnya dalam rangka menyongsong era masyarakat 5.0. Melalui model-model pembelajaran yang komprehensif juga nantinya diharapkan dapat berimplikasi dengan baik.


Sukarno, Mohamad (2020) Penguatan Pendidikan Karakter dalam Era Masyarakat 5.0, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

 

Daftar Pustaka

 

Christensen, C. M. (1997). The Innovator’s Dilemma. Harvard: Harvard Business.

Darwin, C. (2004). On The Origin Of Species. castle book.

Friedman, T. . (2006). sejarah ringkas abad ke 21. Dian Rakyat.

Fund, I. M. (2000). Globalization: Threats or Opportunity.

Hardiman, F. . (2004). Filsafat Modern: Dari Machiavelli Sampai Nietzsche. jakarta: gramedia pustaka utama.

Hopkin, A. . (2002). Globalization In World History. london: pimlico.

Jacob, T. (1988). Manusia Ilmu dan Teknologi. yogyakarta: Tiara wacana.

Khasali, R. (2018). Strawberry Generation. Jakarta: Mizan.

Kusumohamidjojo. (2009). Filsafat Kebudayaan: Proses Realisasi Manusia. Yogyakarta: Jalasutra.

Prasetyo, B. (2018). Alam dan Manusia. Waskita, 37–46.

Ritzer, G. (2010). Globalization: A Basic Text. English: Wiley-Blakwell.

Sandu, C. (2012). Globalization: Definition, Processes and Concepts. Journal Of Natıonal Instıtute Of Statıstıcs.

Shwab, K. (2016). The Fourth Industrial Revolution. New York: Crown Business.

Toffler, A. (1980). The Third Wave. Bantam Books.
























Thursday, January 14, 2021

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR

 




PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR





 

Oleh :

Nama  :           R. Arryo Prawira Y.

NIM    :           1882050037






 

 FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PANCA SAKTI BEKASI

2021






KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat, hidayah serta inayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini yaitu berjudul “Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar”. Semoga dengan membaca makalah ini, membuat para pembacanya, akan lebih memahami tentang kecerdasan emosional. Kritik dan saran sangat kami nantikan agar dapat menyusun sebuah makalah yang lebih baik lagi dan lebih bermanfaat.



BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.    Latar Belakang

Pendidikan adalah suatu usaha  atau  kegiatan  yang  dijalankan  dengan  sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah dasar  sebagai  lembaga formal merupakan sarana dalam  rangka  pencapaian  tujuan  pendidikan  tersebut.  Melalui  sekolah dasarsiswa belajar berbagai macam hal.

Dalam pendidikan formal, belajar menunjukkan adanya perubahan  yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam prestasi belajarnya. Namun dalam upaya meraih  prestasi belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar.

Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting,  karena  melalui   belajar   individu   mengenal   lingkungannya  dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. Menurut Irwanto (1997 :105) belajar merupakan proses perubahan dari  belum  mampu  menjadi  mampu  dan  terjadi dalam jangka waktu tertentu. Dengan belajar, siswa dapat  mewujudkan cita-cita yang diharapkan.

Prestasi belajar menurut Yaspir Gandhi Wirawan dalam Murjono (1996:178) adalah: Hasil yang dicapai seorang siswa dalam usaha belajarnya sebagaimana dicantumkan  di  dalam  nilai  rapornya.  Melalui  prestasi   belajar  seorang siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar.”

Proses belajar di sekolah dasar adalah proses yang sifatnya kompleks dan menyeluruh. Banyak orang yang  berpendapat  bahwa  untuk  meraih  prestasi  yang tinggi dalam belajar, seseorang  harus  memiliki  Intelligence  Quotient  (IQ)  yang tinggi,  karena  inteligensi merupakan  bekal  potensial  yang   akan   memudahkan dalam belajar  dan  pada  gilirannya  akan  menghasilkan  prestasi   belajar  yang optimal. Menurut Binet dalam buku Winkel (1997:529) hakikat inteligensi adalah kemampuan untuk menetapkan  dan  mempertahankan  suatu  tujuan,  untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan  untuk  menilai keadaan diri secara kritis dan objektif.

Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage  our emotional life  with  intelligence);  menjaga  keselarasan  emosi  dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri,  pengendalian  diri,  motivasi  diri,  empati  dan keterampilan sosial.

Dalam artikel ini akan diuraikan lebih jauh mengenai teori-teori yang menjelaskan mengenai pengertian belajar dan prestasi belajar, fator-faktor  yang mempengaruhi prestasi belajar, pengertian  emosi  dan  kecerdasan  emosional, indikator  kecerdasan  emosional,  keterkaitan   kecerdasan   emosional   dengan prestasi belajar.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar siswa?

2.      Seberapa besar pengaruh kecerdasan emosional prestasi belajar siswa?

 

C.    Tujuan Penulisan

1.   Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar siswa

2.   Untuk mengetahui Seberapa besar pengaruh kecerdasan emosional prestasi belajar siswa?


 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

A.    Prestasi Belajar

 

1.     Pengertian Belajar

 

Prestasi belajar tidak dapat dipisahkan dari berbuatan belajar, karena belajar merupakan suatu proses, sedangkan prestasi belajar adalah hasil dari proses pembelajaran tersebut. Bagi seorang siswa belajar merupakan suatu kewajiban.  Berhasil  atau  tidaknya  seorang  siswa  dalam   pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa tersebut.

Menurtut Logan, dkk (1976) dalam Sia Tjundjing (2001:70)  belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif  menetap  sebagai hasil pengalaman dan latihan Senada dengan  hal  tersebut,  Winkel  (1997:193) berpendapat bahwa belajar pada  manusia  dapat  dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental atau  psikis  yang  berlangsung  dalam  interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat  relatif  konstan  dan berbekas.

Di dalam belajar, siswa mengalami sendiri proses dari  tidak  tahu menjadi tahu, karena itu menurut Cronbach (Sumadi Suryabrata,1998:231) :

“Belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami      itu pelajar mempergunakan pancainderanya. Pancaindera tidak terbatas  hanya  indera  pengelihatan   saja,   tetapi juga berlaku bagi indera yang lain.”

Belajar dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan dalam diri siswa, namun tidak semua perubahan perilaku dapat dikatakan  belajar karena perubahan tingkah laku  akibat  belajar  memiliki  ciri-ciri  perwujudan yang khas (Muhibbidin Syah, 2000:116) antara lain :

a.                Perubahan Intensional

 

Perubahan dalam proses berlajar adalah karena pengalaman atau praktek yang dilakukan secara sengaja dan disadari. Pada ciri ini siswa menyadari bahwa ada perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan dan keterampilan.

b.               Perubahan Positif dan aktif

 

Positif berarti perubahan tersebut  baik  dan  bermanfaat  bagi kehidupan serta sesuai dengan harapan karena memperoleh sesuatu yang baru,  yang  lebih  baik  dari  sebelumnya.  Sedangkan  aktif   artinya  perubahan tersebut terjadi karena adanya usaha dari siswa  yang bersangkutan.

c.                Perubahan efektif dan fungsional

 

Perubahan dikatakan efektif apabila membawa pengaruh dan manfaat  tertentu  bagi  siswa.  Sedangkan  perubahan  yang   fungsional  artinya perubahan dalam diri siswa tersebut relatif menetap dan apabila dibutuhkan perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan lagi.

 

2.           Pengertian Prestasi Belajar

Penilaian  terhadap  hasil  belajar  siswa  untuk   mengetahui  sejauhmana ia  telah mencapai  sasaran  belajar  inilah  yang  disebut  sebagai  prestasi belajar. Seperti yang  dikatakan   oleh  Winkel  (1997:168)  bahwa  proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan  dalam bidang pengetahuan dan pemahaman, dalam bidang  nilai,  sikap  dan keterampilan.  Adanya  perubahan  tersebut  tampak  dalam  prestasi   belajar yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan, persoalan atau tugas yang diberikan oleh guru. Melalui prestasi  belajar siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar.

Sedangkan Marsun dan Martaniah dalam Sia Tjundjing (2000:71) berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar, yaitu  sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang diajarkan,  yang diikuti oleh munculnya perasaan puas  bahwa  ia  telah  melakukan  sesuatu dengan baik. Hal ini berarti prestasi belajar hanya bisa diketahui jika telah dilakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa.

 

3.           Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar.

Untuk meraih prestasi belajar yang baik, banyak  sekali  faktor  yang perlu  diperhatikan,  karena  di  dalam  dunia  pendidikan  tidak  sedikit  siswa yang  mengalami kegagalan.  Kadang  ada  siswa   yang   memiliki   dorongan yang kuat untuk  berprestasi  dan  kesempatan  untuk  meningkatkan  prestasi, tapi dalam kenyataannya prestasi yang dihasilkan di bawah kemampuannya.

Untuk meraih prestasi belajar yang baik  banyak  sekali  faktor-faktor yang perlu diperhatikan. Menurut Sumadi Suryabrata (1998  :  233)  dan Shertzer dan Stone (Winkle, 1997  : 591),  secara garis  besar faktor-faktor  yang mempengaruhi belajar dan prestasi belajar  dapat  digolongkan  menjadi  dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.:

a.                        Faktor internal

 

Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :

1)   Faktor fisiologis

 

Dalam hal ini, faktor fisiologis  yang  dimaksud  adalah  faktor  yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera

a)              Kesehatan badan

 

Untuk dapat menempuh studi yang baik siswa perlu memperhatikan dan memelihara kesehatan tubuhnya. Keadaan fisik yang lemah dapat menjadi penghalang bagi siswa  dalam menyelesaikan  program  studinya.  Dalam upaya  memelihara kesehatan fisiknya, siswa perlu memperhatikan pola makan dan pola  tidur,  untuk  memperlancar  metabolisme  dalam   tubuhnya.   Selain itu, juga untuk memelihara kesehatan bahkan juga dapat meningkatkan ketangkasan fisik dibutuhkan olahraga yang teratur.

 

b)                    Pancaindera

 

Berfungsinya   pancaindera merupakan  syarat   dapatnya belajar itu berlangsung  dengan  baik.  Dalam  sistem pendidikan dewasa  ini  di  antara  pancaindera  itu  yang  paling   memegang peranan dalam belajar adalah mata dan  telinga.  Hal  ini  penting, karena  sebagian  besar  hal-hal  yang  dipelajari oleh  manusia dipelajari melalui penglihatan dan pendengaran. Dengan demikian, seorang anak yang memiliki cacat fisik  atau  bahkan  cacat  mental akan menghambat dirinya didalam menangkap  pelajaran,  sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah dasar.

2)      Faktor psikologis

 

Ada    banyak     faktor     psikologis     yang                           dapat      mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain adalah :

a)              Intelligensi

 

Pada umumnya, prestasi belajar yang ditampilkan siswa mempunyai kaitan  yang  erat  dengan  tingkat  kecerdasan  yang  dimiliki  siswa. Menurut  Binet  (Winkle,1997   :529)   hakikat inteligensi adalah kemampuan  untuk  menetapkan  dan mempertahankan   suatu  tujuan,  untuk   mengadakan   suatu penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif. Taraf inteligensi ini sangat mempengaruhi prestasi belajar seorang siswa, di mana siswa yang memiliki  taraf  inteligensi tinggi  mempunyai  peluang  lebih   besar untuk  mencapai  prestasi   belajar  yang   lebih   tinggi.   Sebaliknya, siswa  yang  memiliki   taraf  inteligensi   yang   rendah   diperkirakan juga akan memiliki prestasi belajar yang rendah. Namun bukanlah suatu          yang   tidak         mungkin    jika  siswa     dengan taraf  inteligensi rendah memiliki prestasi belajar yang tinggi, juga sebaliknya .

b)                    Sikap

 

Sikap yang pasif, rendah diri dan kurang percaya diri dapat merupakan faktor yang menghambat siswa  dalam  menampilkan prestasi belajarnya. Menurut Sarlito Wirawan (1997:233) sikap adalah kesiapan seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu. Sikap siswa yang positif terhadap mata pelajaran di sekolah dasar merupakan langkah awal yang baik dalam proses belajar mengajar di sekolah dasar.

c)              Motivasi

 

Menurut Irwanto (1997 : 193) motivasi adalah penggerak perilaku.  Motivasi  belajar  adalah  pendorong  seseorang untuk belajar. Motivasi timbul karena adanya keinginan atau kebutuhan- kebutuhan dalam diri seseorang. Seseorang berhasil dalam belajar karena ia ingin belajar. Sedangkan menurut Winkle (1991  :  39) motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam  diri  siswa yang menimbulkan kegiatan belajar,  yang  menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar itu; maka tujuan  yang  dikehendaki  oleh  siswa tercapai.  Motivasi belajar  merupakan  faktor  psikis  yang   bersifat non intelektual. Peranannya yang khas ialah dalam hal gairah atau semangat belajar, siswa yang termotivasi  kuat  akan  mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar.

 

b.                       Faktor eksternal

 

Selain faktor-faktor  yang ada dalam diri siswa,  ada  hal-hal  lain diluar diri yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang akan diraih, antara lain adalah :

1)   Faktor lingkungan keluarga

a)                      Sosial ekonomi keluarga

 

Dengan sosial ekonomi yang memadai, seseorang  lebih berkesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik, mulai dari buku, alat tulis hingga pemilihan sekolah dasar

b)            Pendidikan orang tua

 

Orang tua yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan dan memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, dibandingkan dengan yang mempunyai jenjang pendidikan yang lebih rendah.

c)              Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga

 

Dukungan dari keluarga merupakan suatu pemacu semangat berpretasi bagi seseorang. Dukungan dalam hal ini  bisa  secara langsung, berupa pujian atau nasihat; maupun secara  tidak langsung, seperti hubugan keluarga yang harmonis.

2)   Faktor lingkungan sekolah dasar

 

a)              Sarana dan prasarana

 

Kelengkapan  fasilitas  sekolah dasarseperti  papan  tulis,   OHP akan membantu kelancaran proses belajar mengajar di sekolah dasar; selain  bentuk ruangan,  sirkulasi  udara  dan  lingkungan   sekitar sekolah dasar juga dapat mempengaruhi proses belajar mengajar

b)            Kompetensi guru dan siswa

 

Kualitas guru  dan  siswa  sangat  penting  dalam  meraih prestasi, kelengkapan sarana dan  prasarana  tanpa  disertai  kinerja yang baik dari para penggunanya akan sia-sia belaka. Bila seorang siswa merasa  kebutuhannya  untuk  berprestasi  dengan  baik  di sekolah dasar terpenuhi, misalnya dengan tersedianya fasilitas dan tenaga pendidik berkualitas , yang dapat memenuhi rasa ingintahuannya, hubungan dengan guru dan teman-temannya berlangsung harmonis,

maka siswa akan memperoleh iklim belajar yang menyenangkan. Dengan demikian, ia akan terdorong untuk  terus-menerus meningkatkan prestasi belajarnya.

c)                      Kurikulum dan metode mengajar

 

Hal ini meliputi materi dan bagaimana cara memberikan materi tersebut kepada siswa. Metrode pembelajaran yang lebih interaktif sangat diperlukan untuk menumbuhkan minat dan peran serta siswa  dalam  kegiatan  pembelajaran. Sarlito  Wirawan (1994:122) mengatakan bahwa faktor yang paling  penting  adalah faktor  guru.  Jika guru  mengajar  dengan  arif  bijaksana,  tegas, memiliki disiplin tinggi, luwes dan mampu membuat siswa menjadi senang akan pelajaran, maka prestasi belajar siswa akan cenderung tinggi, palingtidak siswa tersebut tidak bosan  dalam  mengikuti pelajaran.

3)   Faktor lingkungan masyarakat

 

a)              Sosial budaya

 

Pandangan masyarakat tentang pentingnya pendidikan akan mempengaruhi  kesungguhan  pendidik   dan  peserta   didik. Masyarakat yang masih memandang rendah pendidikan  akan enggan  mengirimkan anaknya  ke  sekolah dasar  dan  cenderung memandang rendah pekerjaan guru/pengajar

b)            Partisipasi terhadap pendidikan

 

Bila semua  pihak  telah  berpartisipasi  dan  mendukung kegiatan pendidikan, mulai dari pemerintah (berupa kebijakan dan anggaran) sampai pada masyarakat bawah, setiap orang akan lebih menghargai dan berusaha memajukan pendidikan dan ilmu  pengetahuan.

4.           Pengukuran prestasi belajar

Dalam dunia  pendidikan,  menilai  merupakan  salah   satu   kegiatan  yang tidak dapat ditinggalkan. Menilai merupakan salah  satu  proses  belajar dan mengajar yang dibuat dalam bentuk rapor. Dalam rapor dapat diketahui sejauh mana prestasi belajar seorang  siswa, apakah  siswa  tersebut  berhasil atau gagal dalam suatu mata pelajaran. Didukung oleh pendapat Sumadi Suryabrata (1998 : 296) bahwa rapor merupakan perumusan terakhir yang diberikan oleh guru mengenai kemajuan atau hasil  belajar  murid-muridnya selama masa tertentu.

Syaifuddin Azwar (1998 :11)  menyebutkan  bahwa  ada  beberapa fungsi penilaian dalam pendidikan, yaitu :

a.                Penilaian berfungsi selektif (fungsi sumatif)

 

Fungsi penilaian ini merupakan pengukuran akhir  dalam  suatu program dan hasilnya dipakai  untuk menentukan apakah siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak dalam program pendidikan tersebut. Dengan kata lain penilaian berfungsi untuk membantu guru mengadakan seleksi terhadap beberapa siswa, misalnya :

1)  Memilih siswa yang akan diterima di sekolah dasar

 

2)  Memilih siswa untuk dapat naik kelas

 

3)  Memilih siswa yang seharusnya dapat beasiswa

 

b.               Penilaian berfungsi diagnostik

 

Fungsi penilaian  ini  selain  untuk  mengetahui  hasil  yang  dicapai siswa  juga  mengetahui  kelemahan  siswa  sehingga   dengan   adanya penilaian, maka guru dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan masing-masing  siswa. Jika guru  dapat   mendeteksi   kelemahan   siswa, maka kelemahan tersebut dapat segera diperbaiki.

c.                Penilaian berfungsi sebagai penempatan (placement)

Setiap siswa  memiliki  kemampuan  berbeda  satu  sama  lain. Penilaian dilakukan untuk mengetahui di mana seharusnya siswa tersebut ditempatkan sesuai  dengan  kemampuannya  yang  telah  diperlihatkannya pada prestasi belajar yang telah dicapainya.

d.                       Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan (fungsi formatif)

 

Penilaian berfungsi untuk mengetahui sejauh mana suatu  program dapat diterapkan. Sebagai contoh adalah raport di setiap semester di sekolah-sekolah tingkat dasar  dapat  dipakai untuk mengetahui apakah program pendidikan yang telah diterapkan berhasil diterapkan atau tidak pada siswa tersebut.

B.    Kecerdasan Emosional

 

1.        Pengertian emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak  menjauh.  Arti  kata  ini  menyiratkan  bahwa   kecenderungan   bertindak merupakan  hal  mutlak  dalam  emosi.  Menurut  Daniel  Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada  suatu  perasaan  dan  pikiran  yang  khas, suatu  keadaan  biologis  dan  psikologis  dan   serangkaian   kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk  bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan  dari  luar  dan  dalam diri individu.

Beberapa  tokoh  mengemukakan  tentang   macam-macam   emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates,  emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate  (benci), Sorrow  (sedih/duka), Wonder  (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan),  Rage(kemarahan),  Love  (cinta).   Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :

a.          Amarah                           : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati

 

b.                   Kesedihan                    pedih, sedih,  muram,  suram,  melankolis,  mengasihi diri, putus asa

c.                  Rasa takut                    : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri

d.                   Kenikmatan                 :    bahagia,     gembira,     riang,                                      puas,                 riang,           senang, terhibur, bangga

e.                  Cinta                             : penerimaan,  persahabatan,  kepercayaan,  kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih

f.                  Terkejut                           : terkesiap, terkejut

 

g.                   Jengkel                            : hina, jijik, muak, mual, tidak suka

 

h.                   malu                                : malu hati, kesal

 

Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas  dalam  menangani  dan  mengatasi  emosi  mereka,  yaitu  : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan,  dan  pasrah.  Dengan  melihat keadaan  itu  maka  penting  bagi  setiap  individu  memiliki   kecerdasan emosional  agar  menjadikan  hidup  lebih  bermakna  dan  tidak  menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.

 

 

2.           Pengertian Kecerdasan Emosional

Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada  tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University  dan  John  Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan.

Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai :

“himpunan  bagian  dari  kecerdasan sosial  yang  melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan  tindakan.”  (Shapiro, 1998:8).

 

Kecerdasan emosional sangat  dipengaruhi  oleh  lingkungan,  tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan  terutama  orang  tua  pada  masa  kanak-kanak  sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional.

Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari :”kecerdasan antar pribadi  yaitu  kemampuan  untuk  memahami   orang   lain,   apa   yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan.  Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif,  tetapi  terarah   ke  dalam  diri.  Kemampuan  tersebut adalah kemampuan membentuk  suatu  model  diri  sendiri  yang  teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal  tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif.” (Goleman, 2002 : 52).

Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan  seseorang  mengatur  kehidupan   emosinya   dengan   inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga  keselarasan  emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expressionmelalui  keterampilan  kesadaran  diri,   pengendalian   diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.

3.           Faktor Kecerdasan Emosional

Goleman mengutip Salovey (2002:58-59)  menempatkan menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional  yang  dicetuskannya  dan  memperluas  kemapuan tersebut menjadi lima kemampuan utama, yaitu :

a.                Mengenali Emosi Diri

Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan  itu  terjadi.  Kemampuan  ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli  psikologi menyebutkan kesadaran diri  sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 64) kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati  maupun  pikiran  tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi.

b.                       Mengelola Emosi

 

Mengelola  emosi  merupakan  kemampuan  individu   dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan  tepat  atau  selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga  agar  emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi.  Emosi  berlebihan,  yang  meningkat  dengan   intensitas   terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita (Goleman, 2002 : 77-78). Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau  ketersinggungan  dan  akibat- akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.

c.                Memotivasi Diri Sendiri

 

Presatasi harus dilalui  dengan  dimilikinya  motivasi  dalam  diri individu, yang berarti  memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi  yang  positif,  yaitu  antusianisme,  gairah,  optimis   dan  keyakinan diri.

d.               Mengenali Emosi Orang Lain

 

Kemampuan untuk  mengenali  emosi  orang  lain  disebut   juga empati. Menurut Goleman (2002 :57) kemampuan seseorang   untuk  mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati  lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang  mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan  lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.

e.                        Membina Hubungan

 

Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan   yang menunjang  popularitas,   kepemimpinan   dan keberhasilan antar pribadi (Goleman, 2002 : 59). Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan  kemampuan  dasar   dalam   keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan  apa  yang diinginkannya dan  sulit  juga  memahami  keinginan  serta   kemauan  orang lain.

Orang-orang  yang  hebat  dalam  keterampilan  membina  hubungan ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil  dalam  pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan  lancar  pada  orang  lain.  Orang- orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman  yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi (Goleman, 2002

:59). Ramah tamah, baik hati,  hormat  dan  disukai  orang  lain  dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa mampu  membina  hubungan dengan  orang  lain.  Sejauhmana  kepribadian  siswa   berkembang   dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukannya.

 

C.    Keterkaitan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar pada siswa

Di tengah semakin ketatnya persaingan di dunia pendidikan dewasa ini, merupakan hal yang wajar apabila para siswa sering khawatir akan mengalami kegagalan atau ketidak berhasilan dalam  meraih  prestasi  belajar  atau  bahkan takut tinggal kelas.

Banyak usaha yang dilakukan oleh  para  siswa  untuk  meraih  prestasi belajar agar menjadi yang terbaik seperti mengikuti bimbingan belajar. Usaha semacam itu jelas positif, namun masih ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam mencapai keberhasilan selain kecerdasan ataupun kecakapan intelektual, faktor tersebut adalah kecerdasan emosional. Karena kecerdasan intelektual saja tidak memberikan persiapan bagi individu untuk menghadapi gejolak, kesempatan ataupun kesulitan-kesulitan dan kehidupan.  Dengan kecerdasan emosional, individu mampu mengetahui dan menanggapi perasaan mereka sendiri dengan baik dan mampu membaca dan menghadapi perasaan- perasaan  orang  lain  dengan  efektif.  Individu  dengan  keterampilan  emosional yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan  berhasil  dalam kehidupan dan memiliki motivasi untuk berprestasi. Sedangkan individu yang tidak dapat menahan kendali atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merusak kemampuannya untuk memusatkan perhatian pada tugas-tugasnya dan memiliki pikiran yang jernih.

Individu yang memiliki tingkat kecerdasan  emosional  yang  lebih  baik, dapat menjadi lebih terampil dalam menenangkan dirinya dengan cepat, jarang tertular penyakit, lebih terampil dalam memusatkan perhatian, lebih baik dalam berhubungan dengan orang lain, lebih cakap  dalam  memahami  orang  lain  dan untuk kerja akademis di sekolah dasar lebih baik (Gottman, 2001:xvii).


 

BAB III

PENUTUP

 

A.      Kesimpulan

Prestasi  belajar  biasanya  ditunjukkan  dalam  bentuk  huruf  atau  angka, yang tinggi rendahnya menunjukkan seberapa jauh siswa telah menguasai bahayang telah diberikan, tetapi hal tersebut sudah tidak dapat diterima lagi karena hasil rapor tidak hanya menunjukkan seberapa jauh siswa telah menguasai materi pelajaran yang telah diberikan. Presatasi belajar  juga dipengaruhi oleh perilaku siswa, kerajinan dan keterampilan atau sikap tertentu yang  dimiliki  siswa  tersebut, yang dapat diukur dengan standar nilai tertentu oleh guru yang bersangkutan agar mendekati nilai rata-rata

Kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor yang penting yang seharusnya dimiliki oleh  siswa  yang  memiliki  kebutuhan  untuk  meraih  prestasi  belajar yang lebih  baik  di  sekolah dasar  sedangkan  prestasi  belajar  merupakan  hasil usaha belajar yang dicapai seorang siswa berupa  suatu kecakapan dari  kegiatan belajar bidang akademik di sekolah dasar pada jangka waktu tertentu yang dicatat  pada setiap akhir semester di dalam buki laporan yang disebut rapor.

B.       Saran

Demikian makalah yang dapat saya susun. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, kami menyadari bahwa makalah ini bukanlah proses akhir, tetapi merupakan langkah awal yang masih banyak memerlukan perbaikan. Oleh karena itu saya sangat mengharapkan tanggapan, saran dan kritik yang membangun demi sempurnanya makalah kami yang selanjutnya. Dan semoga kita bisa bersama-sama mempelajari materi ini dan selanjutnya.






The general website for my Indekost firm.

Kost JRH 98 Ujung Aspal Apartment Open everyday in 24/7 Get Quote? Please contact the homeowner. Call Now: +6281380762294 Get Directions? It...